Ini Kata "3 Srikandi" Asli tentang Tara Basro, Chelsea Islan, dan BCL

Kompas.com - 18/04/2016, 21:39 WIB
Dari kiri ke kanan: Lilies Handayani, Chelsea Islan, Bunga Citra Lestari, Nurfitriyana, Tara Basro, Kusumawardhani menghadiri konferensi pers film 3 Srikandi di XXI Plaza Indonesia, Senin (18/4/2016). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGDari kiri ke kanan: Lilies Handayani, Chelsea Islan, Bunga Citra Lestari, Nurfitriyana, Tara Basro, Kusumawardhani menghadiri konferensi pers film 3 Srikandi di XXI Plaza Indonesia, Senin (18/4/2016).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com -- Artis peran Bunga Citra Lestari (BCL), Chelsea Islan dan Tara Basro memerankan tiga atlet panahan yang mengharumkan nama bangsa di Olimpiade Seoul 1988 dalam film 3 Srikandi.

Melihat tiga bintang layar lebar terkenal berperan sebagai mereka, ketiga atlet panahan yang asli memberikan penilaian masing-masing.

"Terima kasih walaupun belum lihat filmnya, tapi saya udah bayangkan. Perjuangan mereka latihan sampai tangannya robek-robek dikit," tutur salah seorang atlet panahan yang diperankan oleh BCL, Nurfitriyana, dalam konferensi pers 3 Srikandi di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (18/4/2016).

Sementara itu, pemanah Lilies Handayani yang karakternya diperankan oleh Chelsea mengaku salut pada pendalaman peran artis kelahiran Washington DC, AS, itu.

Ia bercerita ketika kali pertama dihubungi Chelsea, Lilies cukup terkejut mendengar Chelsea sudah menggunakan logat Surabaya.

"Dia sudah bisa bahasa Surabaya. Hehehe. Kata Chelsea 'iya, ini lagi belajar mbak'. Jadi saya yakin dia bisa perankan saya. Salah satu dream saya terwujud di sini. (Kisah kami) difilmkan," ucap Lilies.

Berbeda lagi dengan Kusuma Wardani, atlet panahan yang diperankan oleh Tara Basro.

Kusuma mengaku awalnya ia tak mengenal sosok aktris yang meraih Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2015 itu.

"Siapa Tara Basro? Terus anak saya bilang, 'dia dari Makassar juga'. Oh, ya sudah berarti logatnya (Makassar) bisa," tuturnya sambil tersenyum.

Ia juga merasa senang ketiga artis peran itu benar-benar melakukan latihan panahan seperti yang mereka lakukan dulu.

"Lihat potongan-potongan shooting-nya, wah bisa ya mereka juga naik-naik drum. Kami dulu dilatih berdiri di atas drum karena di Korea anginnya kenceng," kata Kusuma.

"Jadi saya merasa senang sekali. Soalnya kami kan udah mulai dilupakan. Anak-anak 90-an banyak enggak tau sejarah. Pasti Tara juga enggak tau nih," ujarnya yang mengundang tawa.

Film yang disutradarai oleh Imam Brotoseno ini dijadwalkan akan dirilis pada 4 Agustus 2016, bertepatan dengan penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro, Brazil.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X