Kekuatan Kata Efek Rumah Kaca

Kompas.com - 28/10/2016, 18:59 WIB
Efek Rumah Kaca tampil pada Synchronize Fest 2016 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (30/10/2016). Festival musik multi genre tahunan ini menyuguhkan 100-an pertunjukan selama tiga malam. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOEfek Rumah Kaca tampil pada Synchronize Fest 2016 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (30/10/2016). Festival musik multi genre tahunan ini menyuguhkan 100-an pertunjukan selama tiga malam.
EditorAti Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Deretan lirik yang tercipta menjadi kekuatan sebuah lagu. Lalu, muncullah sebuah makna yang mendalam.

Untuk itulah band Efek Rumah Kaca selalu mempertimbangkan bahasa Indonesia yang menarik dan jarang dipakai untuk setiap karyanya.

ERK, begitu nama grup itu biasa disingkat, menjadi salah satu kelompok yang ikut kampanye sosial tentang bahasa Indonesia yang digelar harian Kompas untuk memperingati Sumpah Pemuda. 

Selain mereka, ada juga tokoh-tokoh seperti Ari Reda, Silampukau, Iga Massardi (Barasuara), dan Soleh Solihun.

Band yang beranggotakan Cholil Mahmud (vokal/gitar), Adrian Yunan (vokal/bas), Akbar Bagus Sudibyo (drum), dan Poppie Airil (bas/gitar) itu berusaha menggunakan bahasa sehari-hari. 

"Awalnya, kami mencoba pada album pertama untuk lagu 'Sebelah Mata', ada beberapa kata seperti gelombang dan diabetes. Kata-kata yang sudah menjadi bahasa Indonesia tetapi takut dipakai untuk sebuah lagu," kata Adrian, Rabu (26/10/2016), di Jakarta.

KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Efek Rumah Kaca tampil pada Synchronize Fest 2016 di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (30/10/2016). Festival musik multi genre tahunan ini menyuguhkan 100-an pertunjukan selama tiga malam.

Coba saja simak lirik lagu "Menjadi Indonesia" milik ERK. 

"Ada yang memar, kagum bangga. Kumalu membelenggu. Ada yang mekar. Serupa benalu. Tak mau temanimu."

"Kami juga memilih kata-kata yang jarang dipakai dalam lagu, seperti elegi. Kami pengen-nya lentur, enak diucapkan, dan kemudian keterusan mencari kata yang lainnya," ujar Adrian.

Seperti grup musik lainnya, ERK pun tak pernah sepi dari komentar penggemar musik Indonesia. 

"Semakin resisten, semakin kami tabrakkan. Dulu pernah ada yang bilang lirik dan musik kami enggak menjual. Apalagi, ada yang bilang kata-katanya enggak menjual, tetapi sekarang responsnya lumayan. Banyak yang tertarik dengan sesuatu yang segar," kata Adrian. (SIE)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Oktober 2016, di halaman 32 dengan judul "Kekuatan Kata".



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X