Mengintip "Cek Toko Sebelah"

Kompas.com - 05/01/2017, 21:49 WIB
Ernest Prakasa menggelar peluncuran trailer film Cek Toko Sebelah yang disutradarainya di Comic Shop, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (8/12/2016). KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWANErnest Prakasa menggelar peluncuran trailer film Cek Toko Sebelah yang disutradarainya di Comic Shop, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (8/12/2016).
EditorIrfan Maullana

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah Ngenest (2015), Ernest Prakasa membuat film lagi, judulnya: Cek Toko Sebelah. Film bercerita tentang seorang bapak, Koh Afuk (Chew Kin Wah), yang ingin mewariskan toko kepada anaknya.

Anak Koh Afuk ada dua—laki-laki semua. Si sulung Yohan (Dion Wiyoko) yang begajulan, dan si bungsu Erwin (Ernest Prakasa) yang kariernya gemilang. Koh Afuk memilih Erwin, intrik pun tercipta.

Kiprah Ernest sebagai filmmaker memang belum terlalu lama. Walaupun begitu, film debutnya, Ngenest, merupakan sebuah drama komedi yang menarik. Ernest berhasil mengolah buku-bukunya menjadi satu cerita film yang utuh. Debutnya sebagai penulis skenario (adaptasi) itu pun mengantarkannya menjadi nominee untuk FFI 2016.

CTS akan tayang pada tanggal 28 Desember 2016. Menjelang tibanya film tersebut, Gramedia.com menemui Ernest untuk membicarakan berbagai hal. Mulai dari ide cerita CTS, alasan Ernest mengangkat kisah seputar etnis Tionghoa, serta pembelajaran yang ia dapatkan selama menjadi sutradara dan penulis naskah.

G: Bisa sedikit diceritakan, awalnya menjadi filmmaker lewat film pertama Ngenest?

E: Kan Ngenest itu kecelakaan nih. Enggak ada rencana nge-direct sama sekali. Awalnya cuma mau nulis sama main. Terus, Pak [Chand] Parwez itu kan emang punya sejarah panjang nyeburin orang gitu. Kayak Radit [Dika] pertama kali nge-direct juga dia yang kasih kesempatan—begitu juga Fajar Nugros. Istilahnya itu, dia suka buka jalan buat banyak orang. Nah, dulu itu dia bilang, kenapa gue enggak direct sendiri? Akhirnya, singkat cerita, gue coba.

Setelah menyutradarai Ngenest, gue merasa kepuasannya maksimal. Dan itu mungkin enggak akan terjadi kalau gue hanya menjadi penulis skenario. Soalnya, salah satu yang enggak enak dari menjadi penulis skenario kan: setelah final draft lo pasrah. Lo enggak bisa apa-apa lagi, karena itu sudah wewenangnya sutradara di lapangan. Belum nanti wewenang di editor—setelah post-production. Jadi, tahapannya begitu banyak, sehingga walaupun at the end itu nama lo yang tercantum, hasilnya mungkin berbeda dari yang lo tulis. Nah, menjadi sutradara menurut gue jadi menarik, karena gue bisa menjaga dari hulu ke hilir, agar karya itu utuh—sesuai dengan yang awalnya ingin gue sampaikan.

G: Kapan tepatnya lo berniat untuk membuat film kedua?

E: Jadi begitu Ngenest mendapat sambutan baik, Starvision sudah langsung menanyakan: “Bikin apa lagi nih?” Terus pada waktu itu sih gue bilang, “Nanti aja lah, Pak, belum kepikiran juga mau bikin apa.” And then, awalnya premis CTS ini mau gue bikin jadi novel sebenarnya. Tapi kalau gue ukur timeline-nya, kayaknya enggak bakal sempat.

Kalau memang gue mau rilis film lagi di akhir tahun, berarti September harus sudah produksi dan sebagainya. Akhirnya, ya sudahlah, langsung kita bikin skenario aja. Kira-kira selama dua bulan, gue sama istri gue mengembangkan premis CTS sampai ke sinopsis. Skenarionya sendiri, itu akhir April baru mulai kita develop, kelarnya akhir September. 

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X