Irfan "Samsons" Butuh Dikejar "Deadline"

Kompas.com - 17/01/2017, 15:43 WIB
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Irfan Aulia, gitaris grup band Samsons mengenalkan single terbaru mereka yang berjudul 'I Love You' di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta, Senin (16/1/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Jika umumnya orang-orang enggan dikejar deadline atau tenggat waktu dalam bekerja, gitaris grup band Samsons Irfan Aulia Irsal justru membutuhkan itu.

"(Mencipa dan aransemen lagu) butuh suasana yang dikejar-kejar sih," ucapnya saat berbincang dengan Kompas.com di gedung Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Barat, Jakarta Barat, Senin (16/1/2017).

Alumnus Universitas Indonesia itu beralasan seorang seniman khususnya musisi seharusnya tidak diberi waktu yang longgar dalam berkarya.

Ketika mereka memiliki banyak waktu, maka akan cenderung mengulang-ulang lantaran selalu merasa tak puas.

"Kasih deadline itu pasti jadi he-he-he. Namanya seniman kalau dikasih waktu enggak jadi-jadi, ganti mulu. Tapi begitu kasih deadline besok udah harus take, jadi juga akhirnya," kata Irfan lalu tertawa.

Itulah yang terjadi padanya saat membuat aransemen orkestra untuk enam lagu dalam album kelima Samsons. Padahal itu pengalaman pertamanya membuat membuat aransemen orkestra.

Samsons diketahui bekerja sama dengan Budapest Scoring Symphony untuk memberi sentuhan orkestranya.

Selama ini, bagian itu dilakukan oleh komposer-komposer kawakan Tanah Air yang pernah bekerja sama dengan Samsons untuk tiga album pertama. Salah satunya, Erwin Gutawa.

"Kali ini yang paling beda kami eksplor, kebetulan gue punya kesempatan buat nulis aransemen orkestra sendiri. Jadi mungkin yang paling baru dari Samsons itu," ucapnya.

"Album keempat, kami coba nulis strings dulu. Akhirnya pas album kelima ini, ya udah beraniin aja deh soalnya enggak ada cari lain selain nyebur, udah tulis," tambah Irfan.

Di tengah kejaran deadline perilisan single, pria berkacamata ini harus bisa membuat harmonisasi dari beragam jenis alat musik dalam orkestra. Ada cello, contra bass, horn, perkusi, klarinet, trombone, dan lainnya.

"PR-nya (pekerjaan rumah) banyak. Itu malam mau berangkat masih nulis. Orkestra itu kami kerja sama 55 orang. Harus nyambung nih (bunyi alat musiknya)," kata Irfan.

Beruntung, ia dibantu oleh score asisstant yang bertugas menguji melodi dan aransemen apakah mudah atau tidak dimainkan pakai alat musik.

"Dimainkannya susah atau aneh enggak jari musisinya nanti. Terus loncatnya, sulit enggak kan harus main 55 orang bareng, kalau bisa satu suara. Teknisnya memungkinkan atau enggak," jelas Irfan.

"Hampir semua arranger pasti punya itu untuk menerjemahkan biar lebih optimal. Score assistant kami yang score asisstant-nya mas Erwin," ujar Irfan.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorKistyarini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X