Radhar, Melembutkan yang Garang

Kompas.com - 29/01/2017, 16:30 WIB
Marcella Zalianty dijumpai sesudah ambil bagian dalam konferensi pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017) sore, mengenai pertunjukan puisi teaterikal Istana Manusia. KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGMarcella Zalianty dijumpai sesudah ambil bagian dalam konferensi pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017) sore, mengenai pertunjukan puisi teaterikal Istana Manusia.
EditorAti Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Puisi-puisi Radhar Panca Dahana dalam buku Manusia Istana begitu garang, penuh kemarahan, dan banyak luka.

Marah dan luka itu mewakili perasaan banyak orang terhadap penguasa. Dalam puisi teaterikal bertajuk Manusia Istana yang dipentaskan di Teater Jakarta, Sabtu (28/1/2017), enam perempuan cantik mampu memiuhkan kesan garang dan marah.

Manusia Istana yang dipersembahkan oleh Teater Kosong bekerja sama dengan OZ Production dan Kasni Indonesia menampilkan Olivia Zalianty, Marcella Zalianty, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Prisia Wulandari Nasution, dan Dinda Kanya Dewi. Juga ada Slank, Tony Q Rastafara, dan Radhar Panca Dahana. Radhar merangkap penampil sekaligus sutradara.

Manusia Istana memanggungkan 20 puisi yang diambil dari 36 puisi dalam buku Manusia Istana.

Dua puisi di antaranya digubah menjadi lagu, yakni "Indonesia Jalanan" oleh Tony dan "Kabut Sebuah Negeri" oleh Slank. Puisi-puisi itu penuh kritik dan reflektif.

Radhar seolah membangkitkan kembali kesadaran eksistensial kita sebagai rakyat yang telah begitu lama dibodohi penguasa.

Dalam "Sejilid Komik Kritik-Politik" yang dia bacakan sendiri, Radhar menyoroti perilaku para elite politik, wakil rakyat, dan aparatur negara tak ubahnya hiburan murah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagaimana mereka menggulirkan perdebatan tentang kebijakan yang dibalut retorika demi kesejahteraan rakyat. Namun, di balik itu mereka menggelar tawar-menawar harga. Juga dibalut tekanan dan ancaman demi keuntungan seseorang.

Maka, tata negara tak ubahnya tata kapita. Rakyat menjadi tumbal konstitusi demi pengumpulan modal. Yang tersisa tinggallah kebodohan dan kemiskinan. Rakyat selalu menjadi obyek penderita. Itu semua berulang seperti tontonan.

//di kursi penonton/sinema itu tetap memesona/wanita cantik hero yang tampan/negeri kini tinggal hiburan/direproduksi untuk bisnis sampingan// betapa lucu gaya pimpinan/pahlawan lugu tidur kemalaman/rakyat senang menjadi korban//komik ini, komik politik/entertainment tak ada habisnya/kesenangan di sisa jiwa//.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.