Radhar, Melembutkan yang Garang

Kompas.com - 29/01/2017, 16:30 WIB
Marcella Zalianty dijumpai sesudah ambil bagian dalam konferensi pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017) sore, mengenai pertunjukan puisi teaterikal Istana Manusia. KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGMarcella Zalianty dijumpai sesudah ambil bagian dalam konferensi pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (18/1/2017) sore, mengenai pertunjukan puisi teaterikal Istana Manusia.
EditorAti Kamil

Multimedia yang begitu variatif didukung dengan tata cahaya yang artistik menjadikan panggung malam itu ramah di mata.

Penampil sering kali muncul dari kegelapan dengan sorot lampu spot sehingga fokus penonton terjaga.

Bahkan, penonton sempat diberi kejutan dengan penampilan Marcella yang muncul dari kerumunan penonton saat membaca "Air Mata Umara 2" pada puisi ke-14.

Saat itu, tiba-tiba lampu teater yang gulita menjadi terang. Dia duduk dengan baju longgar dan kerudung serba putih. Lalu, perlahan bangkit menuju panggung. Lena penonton sejenak hilang.

Variasi lain yang cukup segar dihadirkan Tony lewat lagu "Indonesia Jalanan" dengan irama reggae.

Lirik lagu ini diambil dari puisi berjudul sama. Begitu juga dengan Slank yang mentransformasi puisi "Kabut Sebuah Negeri" menjadi lagu rancak.

Dua lagu itu turut mengurangi energi marah dalam kata-kata puisi Radhar. Yang lebih efektif mereduksi kesan marah itu tentu saja enam perempuan cantik tadi. Inilah alasan sadar Radhar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia ingin meninggalkan tradisi sastrawan lama yang cenderung frontal ketika melontarkan kritik kepada penguasa. Bahasanya penuh amarah dan disampaikan dengan garang.

Dengan menghadirkan wajah-wajah ayu, Radhar mengubah pesan yang garang menjadi lebih lembut.

"Ada penghalusan dalam bentuk, meskipun retorika dan diksinya berat. Supaya pesan itu sampai dengan baik, tidak diterima dengan marah. Siapa yang mau marah kalau yang baca Maudy, Cornelia, atau Ollivia," kelakar Radhar.

Begitulah, yang ayu memiuhkan yang keras dan kaku. Keanggunan meredam kemarahan. (MOHAMMAD HILMI FAIQ)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Januari 2017, di halaman 23 dengan judul "Radhar, Melembutkan yang Garang".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.