Kompas.com - 01/02/2017, 13:02 WIB
EditorTri Wahono

"Dulu gue dengerin satu lagu buat cari liriknya. Itu masih pakai kaset," kenangnya sembari tergelak. "Gue rewind, gue play lagi, terus gue ulang sampai kaset gue rusak head-nya." Ketika teman-teman satu kelompoknya sibuk menari, ia mulai bereksperimen mengiringi mereka dengan rap yang ia karang sendiri. "Gue mencoba jadi plagiator murni," tuturnya.

Memasuki paruh kedua dekade 80-an, demam tari kejang mulai reda. Namun, Iwa justru semakin penasaran dan berani bereksperimen dengan rap. "Gue dulu sering perform di acara ala pasar seni, seperti kebanyakan anak SMA," kisahnya. Bandnya tak sekadar menambahkan rap sebagai hiasan di lagu-lagu mereka. Iwa didapuk sebagai vokalis dan mengisi rap di sepanjang lagu. "Tapi, referensi kami tentang musik rap minim banget," kenang Iwa.

Alih-alih mengiringi Iwa dengan hip hop, band tersebut memainkan musik bergaya jazz fusion yang saat itu lebih terkenal. "Waktu itu, kami sok-sokan bikin lagu sendiri," ujar Iwa sembari tersenyum lebar. "Gue selalu ada keinginan untuk perform pakai lirik yang baru. Jadi, gue mulai terbiasa menulis lirik."

Iwa dan bandnya mulai rajin meramaikan panggung di Ibukota. Namun, musik rap masih belum mampu menjangkau audiens lebih luas. "Sebenarnya, beberapa lagu sudah mulai bereksperimen dengan rap," kisah Iwa. "Saat itu, bahkan Denny Malik saja sudah memasukkan unsur rap di lagu Jalan-Jalan Sore." Teknik menyanyi terbata-bata yang dipopulerkan Farid Hardja, serta aksi berbalas pantun yang kerap dilakukan Benyamin S. juga dianggap sebagai leluhur artistik rap di Indonesia.

Di klub malam kota-kota besar Indonesia, segelintir rapper mulai mendapat ruang di acara-acara tertentu dan kompetisi rap skala kecil. Namun, bisa dibilang tidak ada yang meninggalkan jejak berarti. “Gue selalu bilang, gue bukan yang pertama.” Ucap Iwa. “Tapi, tidak bisa dipungkiri, rap masih segmented banget.” Band Iwa pun tak bertahan lama. Ia lulus SMA di akhir dekade 80-an, dan pindah ke Bandung untuk kuliah. Di sana, Iwa mendapat terobosan yang di luar dugaan.

"Ada teman main gue yang bilang, ‘Iwa, teman gue ada yang cari rapper tuh, anak-anak Guest Band!” kenang Iwa. ‘Teman main’ ini adalah adik ipar Masaru Riupassa, salah satu anggota Guest Band. Band tersebut baru saja diminta oleh label asal Jepang untuk menjadi produser bagi penyanyi bernama Mellyana Manuhutu. Para personil Guest, yang sebagian pernah tinggal di luar negeri dan menyukai musik hip hop, mulai mencari rapper untuk mengisi lagu Mellyana. “Akhirnya gue dikenalin sama anak-anak Guest, dan mereka tes gue dulu.” Tutur Iwa. “Setelah itu, langsung diminta take.”

Album Mellyana, Beatify, dirilis di Jepang pada tahun 1991. Setelah mengisi rap di album tersebut, Iwa mulai menjadi “session rapper” untuk beberapa penyanyi lain dan rutin pergi ke Jepang. “Gue cuma mengisi 8 bar, 16 bar,” tuturnya. Terobosan bagi Iwa justru datang gara-gara persoalan teknis. “Gue diminta bikin satu lagu sendiri buat mengisi waktu saat Mellyana ganti baju atau break.” Kenang Iwa sembari tergelak. “Konser di Jepang pasti dipisah jadi dua segmen. Di antara kedua segmen itu, pasti ada yang tampil.”

Guest Band lantas banting setir jadi rumah produksi, berganti nama jadi Guest Music Production, dan tertarik menjadikan Iwa ‘proyek’ mereka berikutnya. “Anak-anak Guest mulai bilang, ‘Lo bikin rap bahasa Indonesia, dong! Belum ada di sini'," kenang Iwa.

Berbekal piringan hitam langka dan alat sampler yang mereka boyong dari Jepang, Iwa dan Guest Music mulai merekam demo dan menawarkannya ke label-label rekaman. Di luar dugaan, label Musica Studios tertarik mengontrak Iwa.

"Mereka industri banget, mainstream banget," ungkap Iwa. "Sementara, rap masih sangat segmented. Memang sudah ada beberapa MC lain di Bandung pada waktu itu, tapi belum banyak."

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.