Kompas.com - 01/02/2017, 13:02 WIB
EditorTri Wahono

"Anak-anak di scene hip hop sekarang mau explore lagi, dan memang harusnya seperti itu," ujarnya. "Ketika gue menyukai sesuatu, gue pasti akan menelusuri akarnya. Itulah kenapa gue akhirnya suka musik blues. Gue suka rap duluan, tapi akarnya hip hop adalah blues." Ia mulai bercerita tentang playlist favoritnya, mulai dari Wu Tang Clan hingga artis-artis delta blues macam Robert Johnson.

"Menurut gue, orang yang mau berkarya di hip hop harus jadi tong sampah musik," lanjutnya. "Hip hop itu eklektik, kok. Spiritnya eklektik dan menggabungkan berbagai musik. Kalau ada anak hip hop yang enggak suka dengar musik lain, buat gue gimana caranya lo bisa buat sesuatu di karya lo?"

Pendekatan yang serupa ia gunakan dalam penulisan lirik. "Jadi ‘tong sampah’ buku akan mempermudah lo ketika lo deliver lirik," tuturnya. "Lo baca Thus Spake Zarathustra-nya Nietzsche, misalnya. Kata-kata yang dia pakai sadis, man! Gue sih bodo amat dengan manifesto yang dia tulis, tapi ada yang bisa gue adopsi dari cara dia deliver kata-katanya. Banyak juga lagu gue yang liriknya gue dapat dari puisi-puisinya Rumi, kok."

Lirik untuk Bebas, lanjutnya, ia tulis setelah membaca buku-buku filosofi Zen Dharma. “Gue lebih suka kalau lagu gue diartikan A oleh orang, padahal makna sebenarnya beda.” Ujarnya. "Gue mau orang bisa ngeh sama detail. Mereka jadi peka." Iwa terkekeh dan merapikan kausnya yang longgar.

Masih banyak kisah lain dan pengaruh tersembunyi di balik liriknya, ungkap Iwa, namun ia enggan mengungkap semuanya. "Saat ini, orang lagi antipati dengan hal-hal yang kayak begitu," keluhnya. "Ribet amat, sih? Pada akhirnya, semua sungai akan kembali ke laut, kok."

Tangis anaknya terdengar lagi, dan Iwa beranjak dari kursi. Saat kami kembali ke ruang tamu, ia tengah menggendong anaknya dan menyanyikan kidung ninabobo. Ia melihat kami melangkah masuk dengan ragu, dan tersenyum ramah. Ia tampak bahagia.(Raka Ibrahim)

Artikel ini sebelumnya tayang di Ruang Gramedia.com, 31 Januari 2017.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.