Sakit Hati Bareng NDX A.K.A - Kompas.com

Sakit Hati Bareng NDX A.K.A

Kompas.com - 26/02/2017, 18:30 WIB
KONTRIBUTOR KOMPAS.com/YULIANUS FEBRIARKO Shaggydog mengajak duo dangdut hip hop NDX A.K.A untuk tampil pada Mocosik Festival 2017 hari kedua di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Senin (13/2/2017).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -- Lewat paduan unik antara hip hop dan dangdut, kelompok musik NDX A.K.A menyuarakan keresahan anak muda yang terpinggirkan secara ekonomi, sosial, dan asmara.

Dimotori dua pemuda desa yang tak mahir memainkan satu pun alat musik, NDX A.K.A meraih ketenaran berkat lagu-lagu yang secara jujur dan jenaka mengeksplorasi perasaan nelangsa.

"Wis siap lara ati bareng rung (sudah siap sakit hati bareng belum)?" tanya Yonanda Frisna Damara (21) dari atas panggung Mocosik Festival, Selasa (14/2/2017) malam, di Jogja Expo Center, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Yonanda yang biasa dipanggil Nanda adalah satu dari dua personel NDX A.K.A. Satu personel lain adalah Fajar Ari (22) yang (entah dengan alasan apa) memakai nama panggung PJR Microphone.

Malam itu, keduanya tampil di antara ratusan penonton yang tak semuanya mengenal NDX A.K.A.

Maklum, Mocosik Festival, yang menggabungkan pertunjukan musik dan pameran buku, memang menghadirkan musisi dari genre beragam, misalnya, Raisa, Glenn Fredly, Tompi, Endah N Rhesa, Shaggydog, Jogja Hip Hop Foundation, hingga White Shoes & The Couples Company.

Dengan musisi yang beragam, penonton yang hadir pun punya referensi musik yang majemuk.

Beberapa penonton bahkan tertawa dengan nada mencemooh saat musik hip hop dangdut mulai menggema seiring tampilnya Nanda dan PJR.

Saat NDX A.K.A mengawali penampilannya dengan lagu "Lilakno Aku Dek", sejumlah penonton masih malu-malu untuk bergoyang.

Namun, saat lagu "Tewas Tertimbun Masa Lalu" berkumandang, suasana berubah menjadi meriah.

Paduan suara segera terbentuk mengiringi lantunan vokal Nanda dan PJR yang menyuarakan rasa kehilangan:

"Aku ra iso lali, udan grimis sing dadi seksi
Durung sempet tak rabeni, janjimu wis tok blenjani"
(Aku enggak bisa lupa, hujan gerimis yang jadi saksi
Belum sempat tak nikahi, janjimu sudah kamu ingkari)

Selanjutnya, suasana terus terasa meriah. Meski lantunan musik yang mengiringi NDX A.K.A sempat mati karena masalah teknis dan vokal Nanda serta PJR beberapa kali terdengar fals, penampilan kelompok itu berhasil menghadirkan warna berbeda dalam Mocosik Festival.

Beberapa polisi yang sebelumnya berjaga di luar arena pun terlihat masuk ke ruang pertunjukan saat NDX A.K.A tampil (entah untuk memperkuat penjagaan atau justru untuk ikut bergoyang).

Rp 75.000
Nanda dan PJR bukanlah anak muda kota yang belajar musik secara formal. Keduanya berasal dari Dusun Jati, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Bantul, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Yogyakarta.

"Fajar itu masih ada hubungan saudara dengan saya. Rumah kami juga berdekatan," kata Nanda.

Nanda dan PJR merupakan lulusan SMA dan pernah bekerja sebagai tukang bangunan di Bantul.

"Setelah lulus SMA, kami berdua sempat kerja jadi tukang bangunan karena tidak tahu mau kerja apa," ujar Nanda.

Yang unik, Nanda dan PJR ternyata tak bisa memainkan alat musik dan hanya belajar bernyanyi secara otodidak.

Dengan modal nekat itulah mereka membentuk NDX A.K.A tahun 2011 dengan genre hip hop dangdut.

Nama "NDX" berasal dari inisial Nanda yang dulu dipakainya saat ikut-ikutan "geng pemuda" di desanya, sementara nama "A.K.A" adalah kata yang biasa dipakai untuk memperkenalkan nama alias.

Ketika pertama kali membentuk NDX A.K.A, Nanda dan PJR tak pernah membayangkan bakal meraih kesuksesan seperti saat ini.

Bahkan, ketika NDX A.K.A mulai mempromosikan karya mereka lewat internet, misalnya, melalui YouTube dan situs berbagi musik reverbnation.com, sejumlah orang mencibirnya.

"Sampai ada yang buat lagu untuk mengejek kami," kata Nanda.

Meski demikian, Nanda dan PJR tak patah arang. Keduanya terus konsisten menghadirkan lagu-lagu hip hop dangdut.

Nanda mengenang, saat NDX A.K.A pertama kali diundang pentas di acara jalan sehat di sebuah kampung di Yogyakarta, mereka hanya dibayar Rp 75.000.

"Awalnya, kami memainkan lagu-lagu orang lain, misalnya, Deddy Dores dan Ratih Purwasih, tetapi sekarang kami menyanyikan lagu sendiri," ujarnya.

Sejak semula, lagu-lagu NDX A.K.A fokus pada tema putus cinta dan dominan memakai bahasa Jawa karena pangsa pasar utama kelompok itu memang anak muda menengah ke bawah di Jawa.

"Sebagian lagu itu berasal dari pengalaman pribadi saya. Selain itu, lagu tentang sakit hati itu, kan, bisa dinikmati semua kalangan, terutama masyarakat bawah," kata Nanda.

Lagu pertama NDX A.K.A, berjudul "Bojoku Digondol Bojone", bercerita tentang pedihnya putus cinta karena sang kekasih memilih orang lain.

Tema semacam ini hadir juga dalam beberapa lagu lain, misalnya "Bojoku Ketikung", "Ditinggal Rabi", dan "Janur Garing". Dalam lagu "Kimcil Kepolen", NDX A.K.A meratap sekaligus menyumpah tentang cewek matre yang meninggalkan kekasihnya yang miskin:

"Opo koyo ngene susahe wong kere
Ameh nyandeng tresno kalah karo bondo"
(Apa kayak gini susahnya orang miskin
Ingin menjalin cinta tapi kalah karena harta)

Dengan lagu-lagu semacam itu, NDX A.K.A berhasil menjadi penyambung lidah bagi anak- anak muda kelas menengah-bawah yang kerap mengalami putus cinta.

Tak heran, kelompok itu sangat populer di kalangan anak muda menengah ke bawah, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sejak awal 2014, NDX A.K.A pun diundang pentas ke sejumlah kota, misalnya, Solo, Semarang, Sragen, Boyolai, Kebumen, Jepara, Surabaya, Jember, Tulungagung, Blitar, dan sebagainya.

Di sejumlah kota, para penggemar NDX A.K.A yang bernama Familia juga membentuk komunitas.

"Dalam sebulan, kami bisa manggung sebanyak delapan kali," kata Nanda.

Rata-rata pentas NDX A.K.A dihadiri ribuan penonton. Bahkan saat NDX A.K.A tampil di Jepara, Jawa Tengah, 17 Agustus 2016, jumlah penonton diperkirakan mencapai 20.000 orang.

"Waktu itu, kami baru sempat nyanyi tiga lagu, tapi lalu ada kericuhan. Sampai ada satu penonton yang meninggal," kata Nanda.

Seiring ketenaran itu, tarif pentas NDX A.K.A pun melonjak. Saat ini, tarif NDX A.K.A mencapai Rp 30 juta untuk pentas berdurasi 1 jam.

Belakangan, Nanda juga membuat merchandise NDX A.K.A, misalnya, berupa kaus, celana, dan topi.

Rata-rata penghasilan dari usaha merchandise itu sekitar Rp 20 juta per bulan. Sebagian lagu NDX A.K.A, yang totalnya sekitar 30 lagu, kini juga bisa dipakai nada dering telepon seluler. Kelompok itu juga merencanakan pembuatan album perdana.

Studio rumahan
Di belakang layar kesuksesan NDX A.K.A, ada Rizky Andi Putra (28) yang bertindak sebagai semacam produser bagi kelompok itu.

Rizky adalah pemilik studio rumahan bernama Crazy Gila Music Production yang berlokasi di Yogyakarta.

Di studio sederhana yang terletak di dalam sebuah kamar di rumah Rizky itulah NDX A.K.A biasa merekam lagu-lagu mereka.

Menurut Rizky, semua lagu NDX A.K.A direkam tanpa menggunakan alat musik sungguhan.

Musik yang mengiringi vokal Nanda dan PJR dibuat melalui software di komputer.

"Lirik lagu-lagu NDX A.K.A itu diciptakan oleh Nanda, sementara saya yang buat musiknya dengan software, enggak ada yang pakai alat musik," ujar Rizky.

Itulah kenapa, saat tampil di panggung, NDX A.K.A tak perlu band pengiring, tetapi cukup membawa komputer jinjing berisi musik-musik mereka.

Rizky menambahkan, sesudah NDX A.K.A meraih kesuksesan, banyak anak muda lain yang ingin ikut-ikutan membuat lagu hip hop dangdut.

"Ada banyak yang datang ke saya, minta dibuatkan lagu hip hop dangdut. Ya saya bantu juga mereka," ujarnya.

Saat ini, melalui internet, kita dengan mudah menemukan penyanyi atau kelompok musik yang membawakan lagu hip hop dangdut, mencoba mengikuti jalan kesuksesan NDX A.K.A.

Namun, sejauh ini, baru Nanda dan PJR yang berhasil menapaki jalan itu. (Haris Firdaus)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Februari 2017, di halaman 25 dengan judul "Sakit Hati Bareng NDX A.K.A".


EditorAti Kamil

Komentar
Close Ads X