Kisah Titiek Puspa Melawan Kanker

Kompas.com - 16/06/2017, 11:28 WIB
Titiek Puspa diabadikan di Rumah Makan Sederhana, Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017). Ia menghadiri jumpa pers konser tunggal Elly Kasim yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakpus, pada 29 Juli 2017. KOMPAS.com/Tri Susanto SetiawanTitiek Puspa diabadikan di Rumah Makan Sederhana, Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017). Ia menghadiri jumpa pers konser tunggal Elly Kasim yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakpus, pada 29 Juli 2017.
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyanyi senior Titiek Puspa pernah mengidap penyakit kanker serviks stadium sedang yang divonis dokter pada 2012 lalu.

Pelantun lagu "Kupu-kupu Malam" itu pun menceritakan bagaimana bisa sembuh dari penyakit mengerikan tersebut. Titiek mengaku menggunakan pengobatan non-medis.

"Akhirnya saya (pengobatan) meditasi," kata Titiek di sela sebuah acara di Rumah Makan Sederhana, Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2017).

Jauh sebelum menggunakan pengobatan alternatif itu, Titiek mempercayakan kesembuhannya lewat tindakan medis. Titiek pergi ke Singapura untuk menjalani pengobatan selama 2,5 bulan.

"Dulu waktu saya di Singapura, waktu saya sakit, Ya Tuhan, saya sudah tidak kuat, ambil saja saya, di mana Tuhan mau taruh saya. maksudnya mau di neraka atau di surga, sudah ambil saya," kata Titiek yang mengaku sudah pasrah saat itu.

Sampai suatu hari, ada sebuah isyarat yang ditunjukkan oleh Tuhan. Tanpa suatu sebab, Titiek merasa sangat ingin pulang ke Indonesia dan kemudian meminta anak-anaknya mengurus segala keperluan.

"Sampai di Jakarta, enggak tahunya besoknya saya meditasi 13 hari. Satu harinya lima jam. Dia (dokter meditasi) bilang sembuh. Saya lalu bilang, sembuh dari Hongkong?" kata Titiek yang tak sempat tak percaya hasilnya.

Merasa perlu meyakinkan diri, Titiek kembali ke Singapura untuk menjalani pemeriksaan kankernya di rumah sakit tempat ia dirawat saat itu.

Setelah diperiksa, Titiek tidak menyangka bahwa hasilnya bersih alias sembuh dari penyakit kanker serviksnya.

"Dilihat sama dokter bersih. Dokter bagian kemo bilang clean, bagian yang lain bilang clean. Oke tiga bulan lagi (periksa), sampai satu tahun empat kali ke sana, hasilnya clean. Oke setengah tahun lagi, clean. Kemarin saya periksa lagi, clean," kata dia dengan senyum sumringah.

Titiek tidak menyangka mukjizat kesembuhan datang kepadanya. Ia bersyukur masih diberikan kesembuhan akan penyakitnya tersebut.

Program meditasi yang dijalani Titiek tidaklah mudah. Selama proses pengobatan alternatif itu, Titiek mengaku merasakan sakit yang luar biasa, yang merupakan efek dari proses pengobatannya. Ketika itu, Titiek masih menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.

"Orang cuma disuruh duduk, lidah dilipat, napas dari hidung, duduk aja. Kalau orang yang tidak mau men-switch pikirannya 'Aku harus lakukan. I must do it' itu ya sudah enggak (berhasil)," kata dia.

"Memang setelah tiga hari baru berasa. Jadi ada syaraf yang mencari dengan sendirinya titik akupuntur yang rusak. Tidak boleh digaruk, atau diapakan. Itu harus dengan satu kesabaran sama tekad," ucapnya.

Titiek mengungkapkan bahwa penyakit kanker serviks bisa muncul dari pola hidup yang tidak sehat. Ataupun, kata dia, faktor keturunan.

"Tapi memang dikeluarga saya, bapak saya duluan (meninggal) tahun 1973, cancer. Kakak saya sepuluh tahun yang lalu, cancer. Karena saya dapat dari orangtua saya dapat tinggalan (turunan) banyak sekali kekayaan, asam urat, darah tinggi, kolesterol, jantung, cancer," kata dia lalu tertawa.

Meski sembuh dari penyakit kanker lewat pengobatan meditasi, Titiek tidak mengesampingkan tindakan medis. Ia tetap percaya akan kemampuan para dokter.

Namun, berbagai usaha harus juga ditempuh oleh sang pengidap penyakit di luar tindakan medis. Mungkin saja, kata dia, cara non-medis bisa menyembuhkan seperti yang dirasakan Titiek saat ini.

Titiek pun punya pesan kepada orang yang bertubuh masih sehat. Menurut dia, syukuri dan jaga kesehatan tubuh yang sudah diberikan oleh Sang Pencipta.

"Bagaimana kita harus me-manage diri kita. Semua tuh ada. Anda juga punya. Tapi kalau kita me-manage diri kita dengan baik insya Allah, Tuhan kasih sesuatu yang indah buat kita," tutupnya.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
komentar di artikel lainnya
Close Ads X