Sweet 20, Tak Sekadar Daur-Ulang - Kompas.com

Sweet 20, Tak Sekadar Daur-Ulang

Kompas.com - 05/07/2017, 15:30 WIB
Dok. Istimewa Film Sweet 20


Melalui sebuah ‘jepretan’ seorang fotografer tua (Henky Sulaiman), Fatma (Niniek L Karim) menjadi kembali belia, berusia 20 tahun. Dimulailah sebuah petualangan yang seru, mengharukan, lucu dan bikin sedih.

Dikisahkan, Fatma seorang nenek yang  hidup bersama anaknya, Adit (Lukman Sardi), Salma, istri Adit (Cut mini) dan kedua cucunya Juna (Kevin Julio) dan Luna (Alexa Key).  Fatma masih menyiapkan makan untuk Adit, anaknya yang telah bekerja jadi dosen. Ia juga memberikan uang untuk cucu, bahkan membela ketika dimarahi ibunya.

Sikap ini tentu mengganggu keseimbangan di keluarga, karena Salma merasa keluarganya diintervensi oleh mertuanya. Namun Fatma berkelit, “Aku telah terbukti mampumembesarkan Adit, anakku jadi sukses walalu sempat susah secara ekonomi. Jadi aku lebih tahu,” begitu katanya.

Namun pada sebuah obrolan di ruang keluarga, Fatma menguping bahwa cucunya mengusulkan Fatma agar ditempatkan di panti jompo. Mendengar ini, dalam keadaan sedih, ia berjalan sendiri menyusuri jalan. Hingga sampailah dia di sebuah studio  foto. Dengan alasan ingin membuat foto untuk acara di altar kelak kala meninggal, Fatma malah menjadi muda, layaknya gadis usia 20 tahun.

Dari awalnya kaget dan panik, Fatma malah menikmati ‘tubuh baru’nya.  Fatma yang ketika tua dimainkan Niniek L Karim, lantas berubah  menjadi muda (diperankan Tatiana Saphira).

Semenjak itu, dia pun mengganti nama menjadi Mieke Wijaya, lalu menjadi penyanyi bersama cucu, hingga jatuh cinta kepada Alan, seorang produser TV. Namun ia juga kangen keluarga yang telah kewalahan karena kehilangan  nenek, ibu sekaligus seorang mertua yang bawel. Belum lagi persahabatannya dengan seorang lelaki Tua, Hamzah (Slamet Rahardjo) yang diam-diam juga mencintainya.

Sweet 20 adalah film yang dibuat ulang dari film korea berjudul  Miss Granny. Ditangan Ody C Harahap, film ini tidak sekedar menjadi karya “buat ulang’. Karena bekerjasama dengan Upi sebagai penulis skenario, Sweet 20 berhasil menjadi flm drama keluarga sekaligus romantis komedi yang kental dengan warna Indonesia, baik secara setting, seperti menaruh suasana lebaran serta konflik mertua-menantu yang cukup kuat, serta joke yang bertebaran di sepanjang film, sangat akrab dengan penonton Indonesia, sehingga penonton bisa menikmati pertunjukan film ini dengan melahap setiap joke yang tersaji, baik yang slapstick atau dialog yang sangat jenaka.

Selain itu, adaptasi versi Indonesia juga mempertemukan sejumlah bintang film senior dengan bintang masa kini yang menjadikan tontonan paduan akting yang menyenangkan dan  bernuansa nostalgia. Slamet Rahardjo, dengan sangat piawai memainkan lelaki tua yang kharismatis, genit tapi juga sangat melankolis kala mengekespresikan cinta. Tatiana Saphira, sebagai bintang muda juga tak kalah memukau ketika memainkan orang tua yang bertubuh belia. Sepanjang film mampu konsisten membawakan bahasa tubuh orang tua yang sesekali terasa lincah namun dipaksakan, serta kejudesan khas nenek yang berbaur dengan kecentilan dirinya.

Kalaupun ada catatan yang membedakan adalah issue  kehidupan orang tua yang terasa lebih kental pada versi Korea dibanding Sweet 20 yang lebih kental dengan komedi dan roman. Namun di saat  bersamaan, ketika Mieke menyadari  jatuh cinta pada Alan, juga tidak terlalu tergarap dengan intens. Padahal sebagai orang tua yang terjebak ditubuh belia, Mieke tahu kisahnya tak akan berlangsung lama. Ironi malah dirasakan, ketika Hamzah menegtahui perasaan Mieke/Fatma pada Alan,  ia berkata, “Lagi-lagi, untuk kedua kali, aku harus kehilangan kamu.” Terasa sekali sedih di hati Hamzah yang memang telah lama memendam cinta kepada Fatma.

Akting Niniek L Karim yang sangat maksimal, telah berhasil menghidupkan karakter mertua yang cerewet, penu cinta, galak, sekaligus frustasi kala tahu bakal dipantijompokan. Selain itu, deretan pemain senior seperti Barry Prima, Rudy Wowor, Rima Melati ikut tampil sekilas, namun tetap mencuri perhatian.

Terakhir, walau tidak terlalu istimewa, sejumlah lagu lama yang ditata ulang menghiasi film ini menambah bobot hiburan sehingga film ini cocok untuk tontonan keluarga yang berkumpul dalam suasana lebaran. (Iwan/JY)


EditorJodhi Yudono


Close Ads X