Kompas Minggu
Desk Kompas Minggu harian Kompas

Desk Kompas Minggu (Koming) Harian Kompas, JL. Palmerah Selatan 26-28, Jakarta. Pasukan Koming: INE, CAN, SF, NAW, MHF, WKM, DWA, EKI, DOE, FRO. Akun ini digunakan untuk menampilkan teaser dari tulisan-tulisan yang tayang di Kompas Minggu. Selengkapnya, baca koran Kompas Minggu atau versi digitalnya bisa diakses di Kompas.ID.

Taman Bermain Lala Timothy, dari Film Banda hingga Wiro Sableng

Kompas.com - 12/08/2017, 17:43 WIB
Sheila Timothy - Produser Film KOMPAS/YUNIADHI AGUNGSheila Timothy - Produser Film

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah hampir 10 tahun, produser film Sheila Timothy menyapa penikmat film Indonesia melalui sejumlah karyanya. Bukan dunia yang menjadi cita-citanya sejak semula, tetapi dia justru kini sangat mencintainya.

“Saya senang berada di lokasi shooting. Kalau di belakang meja, gimana gitu. Lapangan sudah jadi seperti playground, taman bermain saya,” kata Lala saat ditemui Kompas, Kamis (10/8/2017).

Lala, panggilan akrabnya, baru saja selesai memproduksi film Banda, The Dark Forgotten Trail yang rilis di bioskop pada 3 Agustus 2017. Film dengan format feature dokumenter ini banyak mendapat tanggapan positif.

“Kami ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk melihat kembali sejarah, bukan untuk dilupakan atau ditutupi, tetapi kita pelajari sehingga tidak mengulang lagi kesalahan di masa lalu. Banyak cerita yang bisa disampaikan tentang Banda. Di sana kolonialisme lahir, tetapi juga semangat kebangsaan. Film ini bisa jadi lebih utuh, bukan sekadar glorifikasi masa lalu,” tuturnya.

Kini Lala tengah sibuk mempersiapkan film Wiro Sableng, salah satu tokoh pahlawan fantasi yang punya banyak penggemar. Dia tertarik mengangkat film ini karena sosok si pendekar kapak 212 ini merupakan representasi orang Indonesia.

“Saat melawan penjahat, dia bisa terpukul atau terluka tapi bisa bangkit lagi. Itu saya rasa esensi Wiro Sableng yang menarik dan relevan dengan masa kini,” ujar Lala.

Lala sangat bersyukur bisa menekuni film sebagai minat dan gairah hidupnya. Meskipun pernah istirahat dari dunia kerja dan menjadi ibu rumah tangga selama 10 tahun, dia kembali dengan penuh semangat untuk memproduksi film-film yang menghibur masyarakat Indonesia.

Mulai dari film Pintu Terlarang, Modus Anomali, hingga Tabula Rasa, kini Lala merambah film dokumenter dan fantasi komedi.

Di tengah keterbatasan infrastruktur yang mendukung beragam genre film, terutama jika dibandingkan dengan negara lain, Lala ingin terus bisa membuat film yang berkualitas.

“Ada film-film yang penting untuk bangsa, masyarakat, dan generasi muda. Sayangnya keterbatasan layar masih jadi momok kita. Problem lain adalah pendidikan film karena kita juga kekurangan pekerja film profesional. Sekolah film kita terbatas, tak lebih dari 10 padahal di negara lain sudah ratusan,” katanya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.