Animasi "Mudik" Jadi Nomine FFI 2017, Kerja Keras Pijaru Terbayarkan

Kompas.com - 06/10/2017, 13:46 WIB
Film animasi pendek Mudik karya Pijaru berhasil masuk nominasi Festival Film Indonesia 2017, yang diumumkan di Jakarta, Kamis (5/10/2017). PijaruFilm animasi pendek Mudik karya Pijaru berhasil masuk nominasi Festival Film Indonesia 2017, yang diumumkan di Jakarta, Kamis (5/10/2017).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com -- Film animasi karya Pijaru, bagian dari Group of Digital Kompas Gramedia, kembali menjadi nomine Festival Film Pendek (FFI) tahun ini.

Film animasi tersebut berjudul Mudik dan menjadi nomine untik kategori Animasi Pendek Terbaik.

Mudik merupakan arahan Calvin Chandra, Ardhira Anugrah Putra, Alfonsus Andre, dan Aditya Prabaswara.

Produser Eksekutif film Mudik, Jerry Hadiprojo, menganggap itu sebagai pengobat kerja keras tim Pijaru. Pasalnya, Mudik dikerjakan selama tiga bulan untuk durasi dua menit, dari pembuatan cerita hingga animasinya.

"Pertama-tama sangat senang. Mudik itu perjuangan bikinnya, lumayan panjang dan cukup lama, jadi dapat nominasi aja buat kami sebuah penghargaan sendiri FFI lagi ya. Membangggakan, sepertinya hasil kerja keras kami terobati," kata Jerry kepada Kompas.com, Jumat (6/10/2017).

Meski produksi animasi Pijaru berjudul Surat untuk Jakarta memenangi Piala Cita 2016 untuk Animasi Pendek Terbaik, Jerry dan kawan-kawan tetap mereka tak menyangka. Sebab tujuan awal pembuatan Mudik bukanlah untuk festival atau penghargaan film.

"Awal mulanya kami buat karena kami sebenarnya idenya membuat sebuah film pendek yang merespons hari raya Lebaran. Kenapa? Karena mudik itu kan sebuah ritual yang cukup sakral ya kalau di Indonesia. Kami pengin menimbulkan rasa nostalgia orang-orang yang pernah mudik," katanya.

[Baca juga: Film Animasi Pendek Mudik Karya Pijaru Masuk Nominasi FFI 2017]

"Nah kami gambarkan dengan cara film pendek itu. Awalnya kami enggak mikir sama sekali itu buat festival. Kami cuma mau buat karya aja yang terbaiklah," sambung Jerry.

Timnya juga tak mau berandai-andai atau terlalu optimistis untuk menang lagi dalam FFI 2017 nanti yang digelar di Menado pada 11 November 2017. Mereka hanya berkomitmen untuk bisa membuat minimal satu film animasi per tahun.

[Baca juga: Surat untuk Jakarta Meraih Piala Citra untuk Film Animasi FFI 2016]

"Jujur kami enggak mau mikir macam-macam, hehehe. Kami di Pijaru udah mikir bahwa masuk nominasi udah kebanggan tersendiri dan kalau menang ya itu bonus aja dan hadiah. Kalau nanti memang ya makin senang aja. Kita liat aja nanti," ucap Jerry.

[Baca juga: Surat untuk Jakarta, Animasi Kehidupan Ibu Kota]

Dalam kategori Animasi Pendek Terbaik, Mudik bersaing dengan Darmuji 86: Bhineka di Persimpangan (Ahmad Hafidz Azro'i), Kaie and The Phantasus's Giants (Ahmad Hafidz Azro'i), Lukisan Nafas (Fajar Ramayel), dan Make a Wish (Salsabilla Aulia Rahma).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X