Film Horor Psikologis Mother! Dinilai Pretensius dan Kacau Balau

Kompas.com - 19/10/2017, 09:15 WIB
Jennifer Lawrence menghadiri penayangan perdana film X-Men Apocalypse di London, Inggris, Senin (9/5/2016). DANIEL LEAL-OLIVAS/AFPJennifer Lawrence menghadiri penayangan perdana film X-Men Apocalypse di London, Inggris, Senin (9/5/2016).
EditorAti Kamil

LONDON, KOMPAS.com -- Aktris papan atas Hollywood, Jennifer Lawrence, membintangi film terbaru karya sutradara revolusioner Darren Aronofsky, Mother!

Dua kombinasi tersebut tentulah menjanjikan. Namun, kritikus Caryn James menyebut film ini pretensius dan kacau balau. Tulisan berikut ini mengenai film ini dibuat oleh James.

Darren Aronofsky pernah bercerita tentang bagaimana berbagai masalah yang terjadi di dunia, mulai dari isu lingkungan hingga krisis pengungsi, menginspirasinya untuk membuat film horor psikologis Mother!

"Suatu hari saya terbangun dengan segala ide itu membuncah di otak, meminta untuk dijadikan film." ujar Aronofsky.

Sayangnya, film ini malah hanya dipenuhi karakter yang hambar dan pesan-pesan moral yang terasa dipaksakan.

Baca juga: Jennifer Lawrence Menolak Pemeran Pengganti

Jennifer Lawrence berperan sebagai seorang istri. Suaminya, Javier Bardem,  seorang penyair yang sedang kehabisan ide tulisan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kita tidak tahu siapa nama kedua karakter ini--pertanda awal betapa buruknya Mother!

Aronofsky berkisah, itu dilakukannya supaya kedua karakter ini lebih terasa universal.

Pasangan tersebut tinggal di sebuah rumah yang terletak jauh dari mana-mana: jenis rumah yang tampaknya cuma ada di film horor.

Baca juga: Jennifer Lawrence Kembali Jadi Aktris Termahal di Dunia

Karakter misterius yang diperani Ed Harris kemudian menjadi tamu di rumah itu. Lalu, mengapa sang suami mengundang Harris untuk menginap?

Tak lama, istri Harris, yang diperani Michelle Pfeiffer, juga datang bertamu, membuat atmosfer rumah itu menjadi semakin aneh.

Pfeiffer bertanya kepada Lawrence berbagai pertanyaan pribadi dan bercinta dengan Harris dengan pintu yang dibuka, sengaja untuk mempertontonkan diri mereka.

Tak bisa ditampik, Darren Aronofsky dengan piawai mampu menghadirkan ketegangan. Kamera bergerak pelan seperti mengintai rumah, sambil mengikuti Lawrence yang kebingungan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, itu cuma sebentar. Aronofsky pun seperti tidak sabar menghujani film ini dengan berbagai simbolisme dan kiasan-kiasan.

Tidak hanya itu, sangat banyak bagian film ini yang rasanya terinspirasi dari film Rosemary's Baby, membuat Mother! kadang lebih terasa seperti pembuatan ulang film horor klasik itu.

Rumah mereka kemudian hangus terbakar. Bardem pun mengambil sebuah batu kristal dari rumah yang telah hangus.

Plot orang-orang datang menyerbu rumah pun muncul. Dua dari mereka adalah laki-laki bersaudara.

Karakter Jennifer Lawrence lalu hamil. Suaminya kemudian berubah mirip sekali seperti karakter yang diperani John Cassavetes dalam Rosemary's Baby: akan mengorbankan apa pun agar misinya tidak diganggu gugat, termasuk mengorbankan istrinya.

Tidak jelas dibawa ke mana
Sebenarnya gampang untuk mengikuti Mother! Namun, plot yang dibuat haruslah menuju ke suatu kesimpulan, tidak harus meyakinkan atau memenuhi standar film horor, tetapi harus mengarah ke suatu kesimpulan.

Namun, seiring berjalannya waktu, film ini malah menjadi semakin berlebihan.

Horor dan nilai religius yang ingin disampaikan, disajikan tanpa ironi. Terasa sekali film ini kebanyakan tema.

Semula, Mother! berkisah tentang ketenaran dan karya seni. Lalu isu gender muncul ketika karakter Jennifer Lawrence diceritakan mau mengorbankan apa pun untuk menjadi inspirasi idaman Bardem.

Bardem ternyata memang ingin mengeksploitasi istrinya. Soal agama hadir belakangan.

Terlalu banyak yang ingin dituturkan, tetapi tidak ada satu pun pesan dan tema itu yang tersampaikan dengan matang.

Meskipun begitu, Darren Aronofsky, yang pernah membuat Black Swan yang surealis dan The Wrestler dengan begitu realistis, tentu merupakan sineas andal.

Baca juga: The Autopsy of Jane Doe: Kisah Horor di Ruang Otopsi

Gaya visual Mother! mempertontonkan kemampuan itu. Bahkan, di satu adegan, tampak rumah Lawrence dan Bardem yang terbakar, mulai beregenerasi, terbangun lagi, seakan-akan rumah itu makhluk hidup. Menakjubkan melihatnya.

Ide sang sutradara menjadikan sudut pandang Lawrence sebagai sudut pandang penonton, juga berhasil membuat penonton bersimpati, meskipun kadang kita bingung, yang sedang kita saksikan itu mimpi atau realita.

Misalnya, ketika Lawrence menekan dinding yang tiba-tiba berdenyut dan diikuti rembesan darah di lantai, apakah Lawrence gila, apakah itu benar-benar nyata?

Baca juga: 5 Hal Mengerikan dari Film Horor Paling Menakutkan Sepanjang Masa

Namun, pada akhirnya, meskipun Lawrence memberi penampilan berkelas, karakter yang diperaninya justru menjadi masalah terbesar film ini.

Karakternya datar, dua dimensi, tidak cukup untuk menanggung beban simbolisme agama dan lain-lain yang ingin dihadirkan Aronofsky.

Lawrence tampak memang berniat ingin mengorbankan dirinya untuk sang suami, tetapi untuk apa?

Mengapa itu begitu penting baginya? Kita tidak tahu. Yang kita tahu hanyalah Aronofsky ingin membuat karakter Lawrence seperti itu.

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam bahasa Inggris dengan judul "Film review: Mother! is a pretentious mess" di BBC Culture.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.