Seni Bernafaskan Islam dan Festival Istiqlal Halaman all - Kompas.com

Seni Bernafaskan Islam dan Festival Istiqlal

Kompas.com - 29/01/2018, 17:57 WIB
Karya Seni Performance Arahmaiani, Flag-Project, Sydney, 2007Dok Arahmaiani Karya Seni Performance Arahmaiani, Flag-Project, Sydney, 2007

PADA 1972, Popo Iskandar, pelukis ternama yang gemar menuangkan gagasan-gagasannya di surat kabar, mengupas pameran solo Ahmad Sadali di harian Berita Yudha.

Ahmad Sadali adalah salah satu pelukis dan intelektual penting dalam seni bernafaskan Islam dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Popo dalam artikelnya menyebutkan, dalam Islam ada hal yang bisa mengatasi manusia dari rasa penderitaan, yakni: bersyukur.

Memuji keagungan dan kemurahan Tuhan. “Dengan demikian, saya rasa seni Sadali adalah manifestasi perasaan bersyukur atau ikhlas; penyerahan diri secara total pada-Nya,” tulisnya.

Rasa syukur itulah yang jauh sebelumnya pada abad ke ke-18 menembus jantung peradaban Eropa. Spiritualitas Islam, yang diterima dengan tangan terbuka, tak dikungkung kaidah-kaidah kaku dalam teologi meluluhkan hati Johann Wolfgang von Goethe. Pencipta kanon sastra Eropa Faust, serta ilmuwan ternama dari Frankfurt, Jerman.

Goethe, yang di kemudian hari dijadikan ikon negara Jerman sebagai institusi kebudayaannya semenjak awal memang jatuh cinta pada Islam. Bahkan di masa remajanya ia gandrung dengan kisah-kisah mistik pun dongeng-dongeng dari dunia Timur, seperti Arab dan Persia, yang kemudian tatkala dewasa Goethe memilih memeluk erat terutama sufisme Islam.

Ia suntuk mendalami berbagai khasanah budaya dan seni Islam yang membuatnya terpikat sekali pada tokoh dan sajak-sajak penyair Persia, Hafiz, yang seterusnya membawa ketertarikan ilmuwan Islam lain, filsuf, politikus dan penyair Muhammad Iqbal dari Pakistan yang mengenang ketokohan Goethe dengan sangat takzim.

Simak salah satu sajak Goethe yang indah:

Alangkah pandir menganggap diri istimewa
Mengira keyakinan sendiri benar belaka.
Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri,
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati.
(Kutipan dari West-Oestlicher Divan translasi oleh Damshäuser dan Sarjono)

Matra tentang Islam, Al Quran dan Muhammad SAW, dengan ungkapan yang merindu-dendam dibawakan dengan sangat elok oleh Goethe di Diwan Barat-Timur (West-Oestlicher Divan). Yang pada masa itu di Eropa hanya ia-lah yang berani menyuarakan.

Hampir bisa dipastikan mustahil, jika bukan sang begawan sastra keturunan bangsawan itu yang mampu membawakan indahnya Islam dengan sangat proporsional. Islam yang dianggap liyan di Eropa menjadi begitu kokoh sekaligus anggun di hati sang seniman agung itu.

Berbagai penelitian, salah satunya dari kritikus seni rupa Charlene Spretnak (The Spiritual Dynamic in Modern Art: Art History Reconsidered, 1800 to the Present, 2014), mengungkap bahwa ekspresi spiritualitas dalam seni ditemukan oleh para seniman-seniman Barat.

Mantra abad ke-20, dengan kokohnya pandangan-pandangan sekuler dan estetika modernisme yang menolak dzat dan kekuatan di luar nalar dan eksistensial diri-nya senyatanya rapuh.

Seniman-seniman Barat, pasca-avant-gardisme mempercayai akan energi adi kodrati yang menjadi ilham utama, dalam karya-karya yang menghamparkan narasi-narasi kehampaan, tragedi, dan kebimbangan hidup menemukan kembali ekspresi artistiknya dalam ketuhanan.

Warisan Goethe, dengan paras romantisisme, yang dikatakan penonjolan wilayah esoterik yang paling abstrak; yang personal, yang persentuhannya dengan Tassawuf, Goethe merasakan epifani dalam dirinya dengan ruh Islam dalam puisi-puisinya rupanya menular pada seniman-seniman Barat lain.

Meskipun bukan Islam, namun fenomena itu melahirkan kembali jalan spiritual yang dipeluk erat para seniman-seniman Barat. Salah seorang perintis kanon spiritualime seni dalam seni abstrak Barat, adalah Wassily Kandinsky yang mempercayai jiwa dan emosi berperan penting dalam produksi seni.

Sementara kita tahu bahwa ekspresi seni dituntut untuk mengejawantahkan persoalan tak hanya dunia dalam diri yang reflektif, namun ada energi kontekstual dengan relasi-relasi di luar dirinya, yakni elemen-elemen estetik yang memunculkan kekuatan transformatif.

Spiritualisme, dengan demikian menjadi wahana utama untuk memproyeksikan kekuatan reflektif personal menjadi energi transformasi sosial, seperti karya-karya seni kontemporer dengan objek-objek yang tak hanya berdiam dalam sebuah tempat.

Namun berkecimpung langsung dengan aktivitas-aktivitas seniman untuk mencari solusi persoalan-persoalan keseharian yang berdimensi ketuhanan yang memancar dalam nilai-nilai kemanusiaan, seperti pengentasan kemiskinan, ketimpangan sosial dan keadilan, keberpihakan pada yang tertindas, penegakan hukum, pendidikan, dan lain-lain.


Festival Istiqlal ke-III

Lukisan karya Said Akram, Ali Imran 8, oil on canvas, 2005.Dok Said Akram Lukisan karya Said Akram, Ali Imran 8, oil on canvas, 2005.
Sementara membincangkan seni bernafaskan Islam di dunia, waktunya kita kembali ke Tanah Air dan menagih janji rencana Festival Istiqlal tahun ini. Sudah 23 tahun berselang Festival Istiqlal digulirkan pada 1991 dan 1995 silam. Sampai hari ini, belum ada tanda-tanda adanya sosialisasi akan digelarnya festival yang ke-III.

Bangsa Indonesia menjadi saksi, bahwa Festival Istiqlal I dan II waktu itu berhasil menarik jutaan pemirsa dan apresiator di era Orde Baru. Pada Februari tahun lalu, terdengar kabar pemerintah berniat akan membuat gagasan perhelatan yang memiliki benchmark tersendiri bagi Festival Istiqlal 2018, yang direncanakan kick off-nya pada Februari ini.

Namun yang ada adalah sebuah event, akhir Januari ini, adalah pameran berskala tidak besar yang bernafaskan seni Islam, digelar oleh sayap kebudayaan sebuah ormas Islam, di sebuah studio seniman di Yogyakarta. Selebihnya, tentang Festival Istiqlal III itu raib, tak ada kabar lagi.

Pada September 2017 lalu, selintas ada berita bahwa hadirnya 120 kaligrafer dari negara-negara di ASEAN dan Timur-Tengah bahkan dari China dan Turki atau seniman-seniman dengan karya kaligrafi Islam meramaikan festival kaligrafi tingkat ASEAN.

Festival ini digelar perdana di Pondok Pesantren (PP) Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang. Acara ini bersamaan dengan perayaan Hari Santri Nasional 2017.

Sejak awal tak ada itikad bahwa perhelatan sepenting Festifal Istiqlal pada 1991 mempresentasikan tak sekadar corak dan pola-pola ekspresi Islam dalam perspektif teologis yang kaku, namun sebuah perayaan seni yang bernafaskan Islam di Indonesia.  Tak juga menampilkan hanya pameran kaligrafi Islam namun lebih daripada itu: khasanah budaya Islam di Nusantara.

Hal yang dalam pengantarnya dari sebuah simposium yang dibukukan dalam “Islam dan Kebudayaan Indonesia: Dulu, Kini, dan Esok” (1993), Dr Taufik Abdullah menandaskan bahwa proses pembaruan pemikiran kesadaraan keagamaan sekarang ialah adanya transformasi kesalehan individual yang transedental menjadi berkonteks sosial serta kultural.

Makna simboliknya maupun diistribusi nilai-nilai seni maupun budaya-nya adalah sebuah transmisi kesadaran intelektualitas umat Islam.

Masih dari Dr Taufik Abdullah, ia menjelaskan, “Festival semacam ini, merupakan sebuah ajang dialog tak ada habisnya melalui berbagai pameran, kerajinan, arsitektur, film, sastra, seni rupa, seni pertunjukan maupun jenis ungkapan artistik lainnya yang semata mengungkap dualisme antara bertemunya Islam dan Indonesia secara tradisonal maupun yang modern”.

Ia menambahkan, “Festival Istiqlal-lah wajah paling otentik, bagaimana Islam telah 'kembali' menemukan identitasnya sebagai umat mayoritas. Dengan demikian, Islam dalam perspektif kebangsaaan maupun negara, bersama bertemu memaknai spiritualitas kekinian”.

Ucapan-ucapan Taufik Abdullah itu, masih saja relevan hari ini. Tatkala keislaman terpasung pada hal-hal tekstual dan tafsir-tafsir atasnya semata digunakan untuk kepentingan-kepentingan politik sesaat.

Maka sudah selayaknya Islam dan Ke-Indonesiaan kembali dirayakan, kembali digaungkan dengan jalan kebudayaan. Jalan yang sejak abad ke-15, menempuh berbagai coba namun tetap saja bertahan di dada.


Page:
EditorAmir Sodikin

Close Ads X