Dirjen: Tata Kelola Kebudayaan Menjadi Poin Penting - Kompas.com

Dirjen: Tata Kelola Kebudayaan Menjadi Poin Penting

Kompas.com - 24/02/2018, 09:22 WIB
Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (6/9/2016)Lutfy Mairizal Putra Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (6/9/2016)

JAKARTA, KOMPAS.com--Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan tata kelola kebudayaan menjadi poin penting yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Karena itu ia mengajak seluruh pemangku kepentingan bidang kebudayaan untuk bersama-sama memperbaiki dan meningkatkan kualitas tata kelola kebudayaan, baik dari sisi kualitas, manajemen, maupun tindakan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk sebuah platform yang diberi nama Indonesiana.

“Indonesiana adalah sebuah platform kegiatan kebudayaan yang nantinya akan digarap bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” ujar Hilmar Farid di hadapan peserta Lokakarya (Workshop) Platform Indonesiana, di Jakarta, Selasa (20/2/2018). Lokakarya Platform Indonesiana dihadiri oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan dan perwakilan dinas kebudayaan dari berbagai provinsi. Hilmar menyebutkan, tata kelola yang baik akan mempermudah kebudayaan bergerak dan membangun kesadaran masyarakat.

“Di Indonesiana ini kita mencoba untuk memperbaiki, meningkatkan kualitas tata kelola kita melalui tindakan. Ini ditekankan karena semangat kita bukan hanya melaksanakan kegiatan. Kita sering bilang kegiatan-kegiatan kita bisa mendunia. Namun kalau hanya terus berkutat di lingkungan sendiri dan senang pada kegiatan sendiri hanya akan jadi katak dalam tempurung. Harus tumbuh kesadaran bahwa ada dunia yang besar di luar sana. Jadi semangat kita bukan sedang berlomba-lomba membuat festival,” katanya.

Ia menuturkan, tata kelola tersebut bertujuan untuk menyinergikan pemangku kepentingan, yakni antarkementerian, lembaga hingga komunitas-komunitas untuk duduk bersama dan saling terkoneksi satu sama lain. Hasil akhirnya ialah membentuk budaya masyarakat yang mandiri.

“Ini ibarat kita sedang menanam sesuatu. Kadang-kadang tumbuhnya itu di luar dugaan, mekar dengan cepat. Bahkan ketika masyarakat sudah melebihi kemampuan kita untuk mengurusnya dan berdaya menjalankan kegiatan itulah keberhasilannya. Sehingga kita para birokrat ini tinggal duduk, memfasilitasi, melihat bagaimana itu tumbuh dan sesekali turun untuk mengairi. Karena apa? Kebudayaan itu lahir di dalam masyarakat. Tugas kita tidak lain adalah untuk memperlancar dan mempermudah orang untuk bertindak,” ujarnya.

Saat ini Direktorat Jenderal Kebudayaan tengah menyiapkan platform Indonesiana untuk menemukan rumusan-rumusan yang tepat dalam meningkatkan tata kelola festival budaya di kawasan yang menjadi titik lokasi. Tak hanya itu, fokus utamanya ialah peningkatan kualitas manajemen, perluasan akses dan penguatan jejaring budaya, serta menyusun skema dan mekanisme sebagai acuan kerja pemerintah di bidang kebudayaan.


Komentar
Close Ads X