Pandji Pragiwaksono Sindir Mereka yang Permalukan Artis Terjerat Narkoba

Kompas.com - 30/03/2018, 15:23 WIB
Pandji Pragiwaksono berpose saat menghadiri screening film Partikelir di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/3/2018). Kompas.com/Tri Susanto SetiawanPandji Pragiwaksono berpose saat menghadiri screening film Partikelir di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (28/3/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komika Pandji Pragiwaksono mengangkat problematika kasus narkoba di kalangan artis dalam film komedi aksi Partikelir.

Pandji mengatakan, ia tidak menyindir kalangan artis yang terjerat kasus narkoba, melainkan pihak-pihak lain.

"Bukan sindiran kepada artis, tapi sindiran kepada mereka yang mempermalukan pengguna sebagai penjahat, yang mempertontokan mereka lewat press conference," ujar Pandji dalam wawancara di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

"Karena kalau kita adil, orang yang pakai (konsumsi narkoba) di situ kan juga disebut sebagai pesakitan, pasti semua yang pakai itu ada alasannya di belakang," sambung dia.

Secara pribadi, Pandji tidak membenarkan pula kalangan artis mengonsumsi narkoba. Namun, ia kurang suka bahwa pengguna narkoba disebut sebagai penjahat.

Baca juga : Pandji Pragiwaksono Buat Partikelir karena Menyukai Cerita Detektif

Menurut Pandji, orang yang mengonsumsi narkoba seharusnya di bantu, di masukan ke pusat rehabilitasi.

"Kok mereka yang dipermalukan, kok mereka yang dikasih liat ke media, foto-foto, penjahatnya dong, yang bikin, yang ngedarin dong. Mereka salah, iya tapi mereka tidak layak diperlakukan seperti itu," ujarnya.

Sementara itu, Pandji mendedikasikan film Partikelir untuk sahabat kecilnya, Naldo, yang telah meninggal dunia. Naldo meninggal lantaran kecanduan sabu.

"Jadi film ini cara saya untuk menolong teman saya yang tidak bisa saya lakukan ketika dia masih hidup. Waktu itu saya tidak bersikap ketika punya teman yang nyabu," ucapnya.

"Jadi film ini didedikasikan untuk sahabat saya," ucapnya.

Baca juga : Pandji Pragiwaksono Bikin Aurelie Moeremans Jadi Cewek Jutek

Film Partikelir berkisah tentang Adri (Pandji Pragiwaksono) dan Jaka (Deva Mahenra) , sahabat sejak SD sampai SMA, yang terobsesi menjadi detektif.

Namun, saat dewasa, Jaka memilih menjadi pengacara di biro hukum litigasi, sementara Adri melanjutkan mimpinya sebagai detektif swasta ( partikelir).

Bertahun-tahun berpisah, dua sahabat ini bertemu kembali saat Adri menerima pekerjaan dari Tiara (Aurelie Moeremans) yang ayahnya meninggal mendadak. Berhasilkah Adri dan Jaka memecahkan kasus ini?

Film ini akan mulai tayang di bioskop Tanah Air pada 5 April 2018 mendatang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X