Membangkitkan Seni dan Budaya Pedesaan Lewat Upacara Kebo Ketan - Kompas.com

Membangkitkan Seni dan Budaya Pedesaan Lewat Upacara Kebo Ketan

Kompas.com - 18/04/2018, 19:08 WIB
Sebuah fragmen dalam acara Wiwitan Upacara Kebo KetanKraton Ngiyom Sebuah fragmen dalam acara Wiwitan Upacara Kebo Ketan

JAKARTA, KOMPAS.com-- Upacara Kebo Ketan tahun ini juga bertujuan untuk lebih memantapkan lagi kerja Kraton Ngiyom membangkitkan kesenian dan kebudayaan rakyat di perdesaan.

Untuk itu, selain mengadakan diskusi bedah buku soal demokrasi, beberapa kegiatan juga dilakukan.

Di antaranya menjalin kerjasama kreatif dengan seniman Yantu Prabawa dan warga Manukaya, Tampaksiring, Bali, dan juga dengan seniman Hendro Dwi Raharjoss dan warga Tanggulangin di Wonogiri, Jawa Tengah.

Tujuannya untuk mengembangkan gagasan dan praktek seni yang sudah dimulai oleh Hendro dan kawan-kawannya di dalam kelompok seni Barong Abang Tanggulangin Wonogiri beberapa tahun lalu.

Mereka mengembangkan konsep dadak merak dari reog Ponorogo. Hendro dan kawan-kawan membuat topeng dadak bukan dari kepala harimau dan bulu ekor merak, melainkan dari kepala stilasi burung (garuda) dan dadak dari buluh-buluh bambu seperti angklung.

Dari mengembangkan gagasan itu, relawan Kraton Ngiyom, Thoyib Gimbal, membuat satu topeng kerbau yang dinamai Mahesa Nempuh.

Kelak, Mahesa Nempuh akan berwujud kepala kerbau dengan dadak dari anyaman bambu. Menurut rencana akan dibuat sebanyak-banyaknya topeng dari pengembangan gagasan ini.

Yantu Prabawa dan warga Manukaya, Tampaksiring, juga akan turut serta di dalam pentas “Opera Barong Abang” yang mengumpulkan berbagai topeng secara teatrikal pada malam hari tanggal 25 November saat Upacara Kebo Ketan berlangsung.

Selain itu, Kraton Ngiyom juga sedang mengembangkan kesenian untuk mengarak Sang Kebo Ketan agar semakin tergarap, dengan harapan pada satu saat nanti bisa dibawa ke tempat lain dan dimainkan di tempat lain.

Untuk itu, berdasar prinsip mengembangkan potensi yang ada, relawan kami, sahabat Suwari Gendol sedang membuat dua buah alat musik bedug dari bahan tatal. Teknik membuat bedug dari tatal memungkinkan membuat bedug besar tanpa harus menebang pohon besar.

Kraton Ngiyom juga sedang membuat suatu bentuk seni pertunjukan berdasarkan ketoprak, namun tidak bermusik gamelan melainkan bermusik campur-sari.

Bekerjasama dengan kelompok Dhatnyenk Music dari Ngawi akan digarap kisah Ande-Ande Lumut untuk dipentaskan pada Upacara Kebo Ketan, November nanti.

Pada bulan Mei, Kraton Ngiyom juga akan bekerjasama dengan Bonita & the Hus Band dari Jakarta untuk menyeleggarakan suatu workshop kreatif menciptakan suatu album, yang mengambil inspirasi dari karya-karya Ismail Marzuki sebagai salah satu tokoh besar sejarah musik Indonesia.



Close Ads X