Ukulele Kayu Mangga, Tak Mampu Beli Akhirnya Buat Sendiri - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan MLDSPOT Content Hunt 2

Ukulele Kayu Mangga, Tak Mampu Beli Akhirnya Buat Sendiri

Kompas.com - 09/06/2018, 10:09 WIB
Wafiq Giotama dan Fadil Firdaus asal Yogyakarta menunjukkan ukulele kayu mangga (Mangifera indica) buatannya yang diberi merek Pelem Ukulele.  MLDSpot Hunt Wafiq Giotama dan Fadil Firdaus asal Yogyakarta menunjukkan ukulele kayu mangga (Mangifera indica) buatannya yang diberi merek Pelem Ukulele.

KOMPAS.com - Kayu mangga tumbuh di halaman-halaman rumah. Orang mungkin lebih kenal buahnya dibanding fungsi pohonnya.

Padahal, kayu pohon mangga—atau pelem dalam bahasa Jawa—bisa jadi bahan pembuatan furnitur. Bukan cuma itu, kayu ini juga bisa menjadi bahan baku untuk alat musik, seperti ukulele.

Resonansinya pun memikat musisi seperti Andi Fadly Arifuddin alias Fadly "Padi".

"Kualitas suaranya sama seperti kualitas ukulele-ukulele terbaik yang dibuat sama perusahaan-perusahaan besar," ujar sang vokalis yang mulai memainkan alat tersebut beberapa tahun belakangan.

Yang dipegang oleh Fadly adalah ukulele "perlawanan" buatan Wafiq Giotama dan Fadil Firdaus asal Yogyakarta.

Dari kayu berjenis Mangifera indica itu, Wafiq dan Fadil coba "melawan". Sebab, keinginan menikmati ukulele berkualitas semasa SMA harus terbentur dengan kata "mahal".

"Mau beli, tapi (waktu itu tahun 2009) enggak bisa karena di sini enggak ada, dan mesti beli di luar, dan itu harganya mahal. Sekitar Rp 6 juta," kata Fadil, yang lalu melihat ke arah Wafiq. "Kita bikin sendiri aja yuk," lanjutnya.
 

Aneka desain Pelem Ukulele yang sesuai namanya memanfaatkan bahan baku kayu mangga. Desainnya berdasarkan pesanan konsumen. MLDSpot Hunt Aneka desain Pelem Ukulele yang sesuai namanya memanfaatkan bahan baku kayu mangga. Desainnya berdasarkan pesanan konsumen.

Tidak lama kemudian, terciptalah produk bernama Pelem Ukulele. Petualangan mengembangkan produk itu pun dimulai tahun 2011.

Pada 2014, setelah membuat ratusan ukulele, mereka akhirnya memiliki bengkel kerja berupa rumah limasan yang sudah dibangun sejak 1950-an.

Nuansa kreativitas terbangun di sana, dan tetap mengandalkan tangan langsung untuk membuat perangkat musik empat senar tersebut.

Kenapa kayu pohon mangga? Meski tidak ada kaitannya antara mangga dan pinggir pantai, bahan kayunya menurut mereka bisa membangun apa yang disebut "tropical sound".

"Karena mangga itu menghasilkan suara yang Hawaii, tropical sound, cocok banget," kata Fadil.

Ukulele mereka memang spesial. Segala hal didiskusikan dulu dengan pembelinya sebelum pembuatan, termasuk kini mencoba jenis kayu lain sesuai keinginan pembeli, membahas ukuran panjang lehernya, sampai soal pemasangan aksesori dan penyematan nama di bodi.

Pelem Ukulele berbahan baku kayu mangga. Desainnya disesuaikan dengan keinginan konsumen sehingga sangat beragam.MLDSpot Hunt Pelem Ukulele berbahan baku kayu mangga. Desainnya disesuaikan dengan keinginan konsumen sehingga sangat beragam.
Para pembelinya sendiri sudah berdatangan bukan hanya dari dalam negeri. Produk mereka juga diekspor ke Amerika, Eropa, sampai Skandinavia.

"Kayu mangga itu kalau di luar negeri harganya tinggi sekali. Dengan pakai kayu mangga, kita enggak perlu menebang hutan-lah. Kan pohon mangga banyak di kebon-kebon," timpal Fadil yang statusnya adalah Co Founder Pelem Ukulele.

Keunikan produknya yang berbau Indonesia pun membuat Pelem Ukulele layak masuk dan dibahas dalam laman MLDSpot kategori Inspiring Products.

MLDSpot Content Hunt sendiri merupakan sebuah gerakan untuk mengajak masyarakat berbagi inspirasi. Bisa mengenai sosok inspiratif, produk, tempat, ataupun komunitas menarik di Indonesia yang bersifat kekinian.

Pada dasarnya, Indonesia punya banyak cerita unik yang menginspirasi, seperti halnya Pelem Ukulele yang mendunia itu.

Lain waktu, kisah serupa bisa saja datang dari Anda. Maka dari itu, berbagilah untuk menginspirasi lebih banyak orang lagi lewat MLDSpot Content Hunt Season 2.  

Ajang itu ditujukan pada siapa pun yang ingin berbagi hal inspiratif mulai dari tokoh, produk, sampai tempat menarik. Pengajuan paling lambat ditunggu hingga akhir Juni 2018.

 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar