Kimo Stamboel: Bikin Film Adaptasi Games Lebih Sulit daripada Buku

Kompas.com - 14/07/2018, 20:22 WIB
Sutradara Kimo Stamboel berpose dalam jumpa pers film Dreadout di acara Game Event, Balai Kartini, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7/2018). KOMPAS.com/Tri Susanto SetiawanSutradara Kimo Stamboel berpose dalam jumpa pers film Dreadout di acara Game Event, Balai Kartini, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sutradara Kimo Stamboel mengatakan, bahwa membuat film yang diadaptasi dari games lebih sulit daripada buku novel.

Kimo menjadi sutradara untuk film Dreadout, yang diadaptasi dari game horor buatan developer lokal Digital Hapines berjudul sama.

"Lebih sulit. Game berbeda dengan buku, kalau buku lebih bertutur. Ini kan genre-nya person, ceritanya tidak detail. Untuk mengembangkan itu butuh waktu yang cukup lama sih," kata Kimo dalam jumpa pers di acara Game Event, Balai Kartini, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (14/7/2018).

Kimo membuat penulisan skenario Dreadout sejak 2014. Ia merampungkanya pada akhir 2017 lalu. Yang bikin sulit adalah menggali karakter-karakter yang ada di dalam games tersebut.

"Selain itu, gua kan juga kerjain film lain dan baru dapat kesempatan serius 2017 ini," ujarnya.

Baca juga: Game Dreadout Diangkat ke Layar Lebar

Perdana menggarap horor, Kimo mengaku akan mencoba membawa nuansa horor yang menyeramkan dalam film ini.

"Orang kalau main game-nya kan creepy, kultural rasa Indonesia ada. Gua mencoba masukin ke film ini. Karena film kan harus bisa lebih travel lagi ke internasional," kata dia.

"Orang luar lihat film lebih suka karakter kayak Pocong, Kuntilanak, daripada hantu lainnya. Gua mau bawa ini sebagai horornya Indonesia," sambung Kimo.

Terkait siapa saja pemain Dreadout, Kimo belum bisa berbicara lebih banyak. Saat ini, proses shooting tengah berlangsung di dua lokasi, yakni Jakarta dan Cibodas, Bogor, Jawa Barat.

"Sedang proses shooting, rencananya 35 hari," kata Kimo.

Dalam versi game, Dreadout menceritakan tentang Linda dan kawan-kawannya yang merupakan murid SMA. Mereka terjebak di kota yang sudah tidak dihuni lagi dan penuh dengan makhluk-makhluk supernatural.

Dalam game ini, pemain akan memainkan karakter Linda dan berusaha bertahan hidup di kota tersebut dengan menggunakan smartphone dan kamera SLR.

Baca juga: Sutradara Dreadout Akui Pikul Beban Kesuksesan Game yang Diadaptasinya



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X