Shooting Sejumlah Drama Korea Ditunda karena Serangan Gelombang Panas

Kompas.com - 08/08/2018, 05:18 WIB
Ilustrasi gelombang panas shutterstockIlustrasi gelombang panas

KOMPAS.com -  Sejumlah stasiun televisi di Korea Selatan memutuskan menunda shooting beberapa program televisi, termasuk reality show dan drama, karena serangan gelombang panas yang menyebabkan suhu tinggi di negeri itu.

Stasiun TV utama seperti KBS, MBC, SBS, dan CJ ENM berusaha memperbaiki kondisi lingkungan kerja bagi para kru di tengah kondisi cuaca yang sangat panas.

Menurut seorang kru "2 Days & 1 Night", tim produksi membatalkan shooting program reality show populer itu pada akhir pekan lalu.

Keputusan itu diambil untuk mencegah kecelakaan kerja yang mungkin terjadi karena suhu tinggi.

"Shooting dijadwalkan karena kami mengkhawatirkan kesehatan kru kami," kata produser acara tersebut kepada kantor berita Yonhap, Minggu (5/8/2018).

Beberapa perusahaan hiburan lainnya juga berusaha menciptakan kondisi kerja yang lebih nyaman bagi krunya, khususnya untuk shooting yang dilakukan di luar ruangan.

Sementara itu MBC dan SBS mengatur kembali jadwal shooting sejumlah program. Shooting untuk adegan di dalam ruangan dilakukan pada siang hari. Sebaliknya adegan di luar ruangan dilakukan pada malam hari ketika suhu sudah turun.

"Kami meminta tim produksi mengatur jadwal shooting. Misalnya dengan meminimalkan shooting di luar ruangan. Maksimal jumlah total jam kerja kita adalah 68 jam per minggu," kata seorang pejabat MBC.

CJ ENM juga berusaha memenuhi standar keselamatan kerja di lokasi shooting.

"Staf kami bisa mengatur jadwalnya tanpa membahayakan keamanan mereka," kata pejabat CJ ENM kepada The Korea Times, Minggu.

"Kami tidak bisa mengungkap drama apa saja yang mengubah jadwal shooting karena serangan suhu tinggi. Namun kami memastikan semua staf menyadari situasi sulit ini dan kami mengatasinya dengan ekstra hati-hati," lanjut pejabat itu.

Kondisi kerja kru drama televisi Korea menjadi perhatian setelah salah seorang pekerja dari drama Still 17 meninggal dunia pekan lalu.

Stasiun televisi tersebut mengatakan kematian pekerja itu disebabkan pendarahan otak. Namun serikat pekerja media mendesak perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X