Marsha Timothy: Main Teater Lebih Berat daripada Film

Kompas.com - 31/10/2018, 22:13 WIB
Marsha Timothy menghadiri jumpa pers pementasan teater Bunga Penutup Abad menggelar jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2018). Kompas.com/Tri Susanto SetiawanMarsha Timothy menghadiri jumpa pers pementasan teater Bunga Penutup Abad menggelar jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Artis peran Marsha Timothy mengatakan bahwa memerankan karakter dalam pertunjukan teater terasa lebih berat daripada bermain film layar lebar.

Marsha berujar, teater lebih menguras fisik lantaran durasi pertunjukan yang panjang dan tidak ada jeda istirahat. Sehingga diperlukan stamina sekaligus olah vokal yang kuat sampai pertunjukan selesai.

"Sedangkan kalau di film ada take ulang, ada cut, ada dubbing lagi, tapi di teater semua itu live. Jadi teater berat ya karena seperti itu," kata Marsha ketika menghadiri jumpa pers Bunga Penutup Abad di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (31/10/2018).

Baca juga: Marsha Timothy Butuh Tiga Hari untuk Terima Peran Nyai Ontosoroh

Dalam pementasan Bunga Penutup Abad yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada 17 dan 18 November 2018, Marsha akan berperan sebagai Nyai Ontosoroh.

Pertunjukan teater ini menjadi yang kedua dimainkan oleh istri artis peran Vino G Bastian. Kiprah Marsha dalam teater ketika ia memerankan karakter Ida Nasution dalam pertunjukan teater berjudul Perempuan-perempuan Chairil.

Mengenai sosok Nyai Ontosoroh, Marsha punya pandangan tersendiri atas sosok karakter yang diadaptasi dari novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, yang termasuk dalam seri novel Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Luar biasa ya, yang segitu luar biasanya dia bisa membalikan dominasi. Kalau buat saya, Pramoedya Ananta Toer membentuk Nyai itu sebenernya protofeminism ya," kata dia.

"Dan zaman itu belum ada tentang feminism, tapi Pram membentuk Nyai itu sedemikian dahsyat karkater fiktif yang saya rasa semangatnya kita rasakan seperti nyata," sambung dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.