Kemegahan Aksi Panggung Yanni dan Orkestra di Prambanan Jazz 2019

Kompas.com - 07/07/2019, 12:15 WIB
Yanni beraksi di panggung Roro Jonggrang Prambanan Jazz hari kedua, yang di gelar di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta pada Sabtu (6/7/2019). Dok.Pribadi/ Rajawali IndonesiaYanni beraksi di panggung Roro Jonggrang Prambanan Jazz hari kedua, yang di gelar di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta pada Sabtu (6/7/2019).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com- Tiba saatnya menyaksikan aksi panggung yang menggelegar dari sang maestro asal Yunani, Yanni dan tim orkestranya.

Yanni beraksi di panggung Roro Jonggrang, Prambanan Jazz hari kedua, yang digelar di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta pada Sabtu (6/7/2019).

Lima menit sebelum mulai, nampak ada 11 orang yang telah berada di atas panggung. Mereka siap memainkan alat musiknya masing-masing, seperti piano, biola, cello, gitar, drum, perkusi, gitar dan saksofon.

Baca juga: Pusakata Beri Bocoran soal Album Baru di Panggung Prambanan Jazz 2019

Tiba-tiba teriakan penonton pecah saat Yanni keluar dari balik panggung sebelah kiri. Dengan senyum lebar, Yanni mengankat tangannya, menyapa para penonton yang hadir.

Yanni muncul dengan mengenakan celana putih, kaus biru dilapisi kemeja putih. Dan langsung menuju ke piano yang menjadi singgahsananya.

Kemudian terdengar lantunan musik orkestra yang megah nan indah. Di bawah tata lampu yang spektakuler, Yanni menghipnotis para penonton.

Suara saksofon, biola, dan piano Yanni seakan berlomba memanjakan indera pendengaran seluruh penonton yang menyaksikan peristiwa itu.

Baca juga: Terkesan dengan Indonesia, Yanni Merasa seperti di Rumah

Hanya dengan menggerakan tangannya, Yanni mengendalikan para pemain musik. Saat itu mereka memainkan harmonisasi bunyi-bunyian yang langsung melahirkan decak kagum.

Yanni kemudian berpindah ke piano yang lain. Dia olpun menyapa para penonton sebelum melanjutkan penampilannya.

"Halo Jogja. Saya senang di Jogja. Apa kabar?" ucap Yanni dalam Bahasa Indonesia.

Yanni juga mengungkapkan kekagumannya dengan keindahan Candi Prambanan yang menjadi latar penampilannya malam itu.

"Ini malam yang benar-benar cantik. Ini waktu yang spesial dalam hidup saya bisa ada di sini, sangat cantik," sambungnya.

Yanni membawakan sedikitnya 20 lagu malam itu. Sembilan diantaranya merupakan lagu-lagu yang terdapat dalam album 'Live at The Acropolis'.

Di antaranya adalah Santorini, Keys to Imagination, Until The Last Moment, The Rain Must Fall, Reflections of Passion, dan Acroyali, Standing in Motion, One Man’s Dream, serta Nostalgia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X