Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Kompas.com - 09/09/2020, 07:00 WIB
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana DOK. LEILA S CHUDORIComing Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Puisi "Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan" diciptakan tahun 2015 meski ide itu lahir tahun 1984 ketika Warih mengunjungi Taman Budaya Bali.

Pada saat itu, menurut Warih, kali pertama ia "berkenalan" dengan warna warni sang maestro pelukis Hendra Gunawan.

Menurut Warih, lukisan karya Hendra menorehkan puisi di atas kanvas yang membayangi-bayanginya, mengesankan dan menyentuh hingga bawah sadar Warih tentang bagaimana orang mati di pekuburan Trunyan; tentang ritualnya di masa Bali pra Hindu yang menyebabkan jenazah yang tetap mewangi.

Dari lukisannya itu, bagi Warih, Hendra mengungkapkan bahwa "kalian (mayat) yang terbaring di tanah Trunyan masih tetap mewangi, kami yang hidup, belum mati tapi sudah berbau". Maka jadilah puisi "Bersama Hendra Gunawan ke Trunyan".

Namun, ada satu hal yang penting bagi sosok penyair ini. Selain hidup dari dan untuk kata-kata, dia juga memiliki daya ucap dan bunyi yang menarik.

Di atas panggung, Warih membacakan puisi dengan suara yang menyihir.

Menurut Warih, penyair Indonesia mempunyai kepribadiannya masing-masing saat membacakan puisinya karena "membaca puisi dan mencipta puisi adalah semacam proses penemuan diri."

Menurut Warih, seorang penyair harus menulis puisi dengan baik, tetapi tak wajib bersuara bagus saat membacakannya.

Yang penting adalah penghayatan yang mendalam terhadap kata yang diungkapkan agar puisi itu menjadi sesuatu yang organik dengan diri si pembaca.

Hal lain yang juga menarik diungkapkan bahwa puisi-puisi Warih yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing seperti bahasa Belanda, Jerman, Inggris, Portugal, dan Perancis, sesungguhnya banyak puisi-puisinya (dan puisi penyair Indonesia lainnya) yang "hanya ditakdirkan untuk menjadi puisi Indonesia".

Menurut Warih, penerjemahan sesungguhnya adalah sebuah proses penciptaan ulang, karena ada unsur bunyi dan kata-kata tertentu yang harus diterjemahkan pada kata atau kalimat yang paling mendekati –jika taka da padanan kata.

Maka, dalam puisi, saat berubah rupa dan bunyi menjadi bahasa asing, ada ruh bahasa Indonesia di dalam setiap kata puisi itu yang sudah pasti menguap. Bagaimanapun, bagi Warih, tentu saja penerjemahan tak akan terhindarkan.

Perbincangan tentang kumpulan puisi "Batu Ibu" dan puisi secara umum bersama Warih Wisatsana bisa Anda dengarkan di Spotify.

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X