JAKARTA, KOMPAS.com — Memeriahkan hari raya Idul Fitri, sutradara film Hanung Bramantyo (34) pada 9 September 2010 akan merilis film terbarunya berjudul Sang Pencerah
Tentang film dengan budget Rp 12 miliar ini, Hanung mengatakan, biaya terbesar terserap untuk membangun setting lokasi film: Yogyakarta tahun 1800-an. Bangunan yang ada di Yogyakarta saat ini merupakan bangunan tahun 1900-an.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi Hanung. Tahun 1800-an lantai Keraton Yogya pun masih tanah. Jadi, kalau ada kebocoran lokasi dalam film, misalnya tampak kondisi bangunan yang tidak seperti tahun 1800-an, Hanung minta dimaklumi.
”Kalau kami shooting di rumah orang yang lantainya marmer, kami tutup marmer itu dengan tanah. Jadi kita ngotor-ngotori rumah orang, he-he-he,” katanya.
Dana besar juga terserap untuk pembuatan kostum para pemain. ”Para pemain ini cuma bawa badan aja. Selama satu tahun ini kami menjahit baju khusus yang sesuai dengan tahun 1800-an. Enggak bisa kita beli baju langsung di toko karena tidak akan sesuai dengan tuntutan film. Jarik (kain panjang) dan sorban harus dibuat khusus dengan motif tahun 1800-an,” kata Hanung. (LOK)