Bambang Asrini Widjanarko
Kurator seni

Kurator seni, esais isu-isu sosial budaya, aktivis, dan seorang guru. Kontak: asriniwidjanarko@gmail.com

Terobosan Dua Seniman, Diplomat dan Birokrat

Kompas.com - 21/02/2021, 22:28 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

JIKA seni dikatakan terpaut erat dengan dunia politik, terutama dalam bingkai diplomasi pun birokrasi; tak perlu jauh mencari referensi.

Seperti disebut oleh jurnalis Cindy Adams tentang Bung Karno (Sukarno My Friend, 1970), dengan mengutip pernyataan si Bung Besar:

Irama suatu revolusi adalah mendjebol dan membangun, yang menghendaki djiwa seorang arsitek. Di dalam djiwa arsitek terdapatlah unsur-unsur perasaan dan djiwa seni.

Bung Karno pada 1943 sebelum menjadi Presiden piawai menggunakan seni pada masa krisis perang Asia Timur Raya.

Baca juga: Pameran Seni Rupa Sugih Ora Nyimpen, Gambarkan Sosok Mendiang Jakob Oetama

Sebagai alat diplomasi tingkat tinggi dengan memberi hadiah pada Hitoshi Imamura, Panglima ke-8, Jenderal pasukan Dai Nippon kawasan Jawa, Kepulauan Solomon dan Panua Nugini.

Dengan sebuah lukisan potret diri sang Jenderal yang dibuat pelukis Basoeki Abdullah.
Sebagai seniman berbakat, pada masa pengasingan di Ende, Flores (1934), Bung Karno membuktikan memproduksi lukisan-lukisan cat air yang elok.

Selain itu, sebagai apresiator cukup dekat dengan seniman tak hanya yang lokal, tapi sempat menjadi model bagi pematung, arsitek lansekap dan desainer tenar dari Amerika Serikat berdarah Jepang, Isamu Noguchi.

Dalam tulisan ini ada dua seniman merangkap diplomat atau birokrat yang patut didedah motif “estetiknya” yang menyetubuh dalam kehidupan personalnya sehari-hari; selain memproduksi karya-karya seni.

Dua perempuan ini, Sri Astari Rasjid dan Dyan Anggraeni yang pada Maret-April nanti bersama delapan seniman perempuan lain berpartisipasi di pameran Indonesian Women Artists: Infusion into Contemporary Art yang diselenggarakan Cemara 6 Museum dan Galeri.

Hal ini, cukup memberi gambaran jelas, seni lekat dalam perspektif tata kelola pemerintahan dan diplomasi politik.

Baca juga: 3 Etika Saat Berkunjung ke Pameran Seni

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.