Jumat, 19 September 2014
Obituari Film dan Komunisme di Mata Sutradara Bandel
Rabu, 11 April 2012 | 10:46 WIB
|
Share:

  Sosok Misbach Yusa Biran memang luar biasa. Ia pelaku sejarah di dunia perfilman nasional.  Gagasan dan pemikirannya mewakili siapa dirinya. Herman Hasyim, salah seorang Kompasianer pernah menyajikan sebuah tulisan yang mencoba menggambarkan Misbach dan pemikirannya. Untuk mengingatnya kembali, redaksi menayangkan kembali tulisan yang pernah dimuat di Kompasiana pada 19 September 2010.

“Anak saya sekarang tidak tahu apa PKI itu, bahwa PKI memang pernah ada. Bahkan orang-orang yang lebih dewasa dari dia percaya pada kebohongan komunis bahwa PKI itu hanya “setan” yang dibikin oleh ABRI.” (H Misbach Yusa Biran: 2008)

dokumen Media Indonesia
Ilustrasi: dokumen Media Indonesia

Mari membaca pikiran H Misbach Yusa Biran, seorang sutradara dan penulis skenario kawakan, salah satu pendiri Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Institut Kesenian Jakarta (IKJ) serta Ketua Sinematek, melalui memoarnya: Kenang-kenangan Orang Bandel.

Suatu kali di penghujung tahun 1960-an, sutradara berdarah Minang-Banten itu memutuskan untuk berhenti bekerja di dunia film. Dia menilai film-film yang diproduksi sineas Indonesia sudah jauh melenceng dari idealismenya. Nyaris seluruh film berbumbu pornografi, diembel-embeli “sex education” pula, supaya laku di bioskop. Hanya segelintir film yang dibikin sesuai dengan “ciri kepribadian nasional kita”.

Dalam situasi demikian, Misbach mendapat tawaran untuk membuatkan film buat Pusroh Islam Angkatan Darat. Meski menurutnya dana untuk film itu amat kecil, suami artis Nani Widjaja ini setuju menulis skenarionya. Film itu akan berisi dakwah untuk kalangan militer, khususnya Angkatan Darat. Karena berisi dakwah, Misbach berpikir bahwa film itu harus ada relevansinya dengan keadaan militer kala itu, yakni sedang menghadapi berbagai gerakan di bawah tanah dan gerilya sisa-sisa PKI (Partai Komunis Indonesia).

Maka, Misbach membikin skenario film berjudul Operasi X. Isinya menuturkan tugas rahasia seorang anggota RPKAD yang diselundupkan ke sarang gerakan bawah tanah PKI untuk bisa membongkar jaringan mereka. RPKAD, cikal bakal Kopassus, adalah adalah Resimen Para Komando Angkatan Darat. Ketika di bawah kendali Sarwo Edhi Wibowo (mertua Presiden SBY), RPKAD berperan besar dalam penumpasan PKI.

H Misbach Yusa Biran punya sikap yang jelas dan tegas terhadap komunisme. Alasan utama penolakannya terhadap ideologi ini adalah dasar falsafahnya, yang menurut Misbach, anti-Tuhan. Padahal, agama bagi Misbach adalah pandangan dan jalan hidup yang tak boleh ditiadakan dalam segala sendi kehidupan, termasuk di dunia film.

Komunisme sendiri bukan barang asing bagi Misbach dan keluarganya. Ayah ibunya bertemu dan menikah di Digul, pedalaman Papua, sebagai orang buangan penjajah Belanda. Ibunya terpaksa tinggal di sana untuk mengikuti kakek Misbach, seorang yang taat beragama, yang dihukum karena dituduh terlibat dalam pemberontakan komunis di Banten tahun 1926.

Tentang hal ini, Misbach menulis:

Setelah pemberontakan rakyat dengan bendera komunis sekitar tahun 1926, maka semua orang yang melawan Belanda disebut komunis. Kemudian orang-orang yang merasa dirinya sebagai pihak yang menantang Belanda dan aparatnya atau merasa dirinya patriot menamakan diri sebagai “orang komunis”. Mana mungkin para kyai atau orang yang taat ibadah seperti kakek saya bisa menerima paham komunis yang dasar falsafahnya anti-Tuhan?

Diakuinya, ide kalangan komunis yang tidak mau kooperatif dengan Belanda dan berpendirian merebut kekuasaan dengan kekerasan sangat sesuai bagi orang Banten. Karena itu, tidak mengherankan pula bila nama Misbach yang disandangnya berasal dari nama Haji Misbach—tokoh Banten yang terkenal kegigihannya melawan Belanda dan disebut-sebut berhaluan komunis.

Misbach dengan bangga menyatakan dirinya berasal dari keluarga pemberontak. Selain kakeknya, ayahnya juga seorang pemberontak terhadap kekuasaan Belanda di daerah Sumatera Barat. Sifat itu menurun pada dirinya. Karena itu, Misbach menyebut dirinya sebagai orang bandel karena memiliki kepribadian yang cenderung suka memberontak, pemberai, pembangkang.

Kebandelan itu sudah terlihat terang sejak dia remaja saat dia belajar di SMA Taman Siswa, Jakarta. Sekolah ini adalah gudangnya aktivis politik, seniman dan budayawan. Dia kerap berulah nakal, suka ribut, atau menjadi trouble maker.

Sejak tahun 1951-1952, di SMA Taman Siswa sudah berkembang berbagai paham politik. Kebanyakan siswanya bergabung dengan Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Misbach memilih ikut Pelajar Islam Indonesia (PII). Menurutnya, IPI lebih condong ke komunisme. Pokoknya saya tidak ikut kelompok siswa yang komunis, kata dia. Dengan keaktifannya di organisasi ini, dia tidak buta politik sama sekali.

Sebagai aktivis PII, Misbach tak gentar berhadapan dengan orang-orang Kiri di sekolahnya, bahkan terhadap gurunya. Suatu hari, karena sesuatu hal, dia ribut dengan guru yang di kamarnya terpampang bendera Pemuda Rakyat, organisasi pemuda bawahan PKI.

Di kemudian hari, pada tahun 1960-an ketika terjun di dunia film, sutradara yang berteman akrab dengan Dwi Tunggal perfilman Indonesia Usmar Ismail-Djamaluddin Malik ini semakin intens berhadapan dengan kalangan kiri. Yang dia maksud kalangan kiri adalah orang-orang yang pro-komunis. Mereka berasal dari anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional), Sarbufis (Sarikat Buruh Bioskop, Film dan Sandiwara), Lesbi (Lembaga Seni Budaya Indonesia), dan lain-lain. Umumnya, mereka menamakan diri sebagai kelompok Progresif-Revolusioner.

Menurut Misbach, kalangan kiri sangat gencar menyerang lawannya. Tentang hal ini, dia bercerita:

Apalagi semakin kuatnya posisi PKI di sisi Soekarno membuat Lekra semakin berani melakukan langkah garang. Tidak ada organisasi kesenian yang berani menentang kaum Kiri. Bisa dicukur habis oleh mereka. Koran-koran yang menjadi terompet kalangan Kiri akan menyerang dengan terjangan keras dan cercaan kasar terhadap siapa saja yang berani menghalangi jalan mereka atau yang dianggap musuh. Yang paling galak adalah koran Bintang Timur dengan ruang kebudayaannya, Lentera, yang diasuh oleh pengarang Pramoedya Ananta Toer. Cara koran itu menghajar lawannya sangat kasar dan kotor. Orang yang tidak berlindung dalam partai yang dekat dengan Soekarno akan tidak berdaya sama sekali kalau diganyang oleh koran pro-Kiri. Organisasi kesenian yang tidak punya “bapak” kuat, seperti halnya HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam), akan empuk dihabisi kalau berani menyatakan sikap politik atau berani menentang langkah orang Kiri.

Pada saat itu, satu-satunya tempat berlindung bagi seniman Islam adalah Partai NU (Nahdlatul Ulama). Kata Misbach, ketika aksi seniman Kiri hendak mengangkangi semua bidang kesenian, NU tergerak membikin organisasi kebudayaan yang bisa menandingi Lekra-nya PKI. Organisasi itu bernama Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia). Didirikan pada tahun 1962, Ketua Umumnya adalah Djamaluddin Malik, tapi secara de facto, nahkodanya adalah Usmar Ismail.

Awalnya Misbach tidak dilibatkan dalam Lesbumi. Saat kekuatan komunis dirasa kian menjadi-jadi, kemudian dibentuklah Lesbumi wilayah DKI Jakarta, karena organisasi ini tidak cukup efektif bila hanya bergerak di pusat. Misbach didaulat menjadi ketuanya. Dia mau mengemban tugas itu setelah didesak terus-menerus, tapi tetap menolak untuk masuk ke Partai NU, walau dijanjikan akan diberi satu kursi di parlemen. Sedari awal, mantan anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) ini memang enggan menjadi bagian dari partai politik, walau kenyataannya dia pernah juga bekerja sebagai redaktur Abadi—koran milik Masyumi.

Peta politik nasional berubah drastis setelah peristiwa G30S terjadi pada 30 September 1965. Kala itu terjadi serangan balik kalangan nonkomunis terhadap kalangan prokomunis di segala bidang, termasuk film. Presiden Soekarno, yang mulai terpojok, menghimbau agar semua kekuatan nasional tetap bersatu untuk memecahkan berbagai masalah. Imbauan yang dikenal dengan istilah Kerukunan Nasional itu tidak mempan. Di mana-mana orang meneriakkan supaya PKI dibubarkan dan yang bersalah mesti dihukum.

Dalam situasi seperti ini, sutradara Wim Umboh membikin film antikomunis berjudul Sembilan. Sebenarnya Misbach dilibatkan dalam pembuatan film itu, tapi dia menolaknya. Alasan dia, dalam pembuatan film itu ada perananan kalangan politik.

Film Sembilan hendak menggambarkan perlawanan terhadap serangan bajak laut dari luar. Perlawanan itu dilakukan bersama-sama oleh sembilan suku. Film ini hendak menunjukkan bagaimana komunisme bekerja sembari menyelaraskannya dengan anjuran Presiden Soekarno. Sayangnya, kata Misbach, setelah jadi film, penonton tidak bisa merasa bahwa gambaran dalam film itu adalah sama dengan anjuran Presiden Soekarno. Orang lebih banyak mengagumi tata warnanya serta aneka warna busana yang direncanakan oleh Teguh Karya. Tidak mengherankan lantaran Sembilan adalah film Indonesia pertama yang berwarna—tidak lagi hitam putih.

Setelah PKI dibubarkan dan pengaruh komunisme kian berkurang, Misbach terpilih menjadi anggota DKJ dan mengajar di IKJ. Walau berkali-kali meneguhkan niat untuk hengkang dari jagad perfilman, nyatanya niat itu tak pernah terlaksana. Di luar kesibukan di DKJ dan IKJ, dia merintis pula Sinematek—pusat pendokumentasian film Indonesia. Dia juga tetap menyutradarai dan menulis skenario film. Dari dunia film yang dibenci sekaligus dicintainya ini, sudah banyak penghargaan diterimanya, salah satunya dari Presiden Habibie pada tahun 1999 berupa Satya Lencana.

Belakangan, Misbach menjadi orang di balik layar yang mengembangkan film di Muhammadiyah, bersama sutradara senior, Chairul Umam. Mengenai hal ini, dia menulis:

Bagi saya sendiri, demi Islam saya bersedia berjuang di bawah payung mana saja, di mana saya dibutuhkan. Pada akhir 1950-an, saya berjuang di koran Masyumi, kemudian menjadi komisaris HSBI, lalu diminta memperkuat Lesbumi. Kini Chairul minta dibantu di Muhammadiyah.

Misbach mengaku tidak menerima honor apapun, baik dari HSBI, Lesbumi maupun Muhammadiyah. Dia melakukan itu semata-mata demi idelismenya pada film, juga demi agamanya.

Dengan dasar pemikiran yang sama, pada suatu masa, sutradara yang lahir di Rangkasbitung, Lebak, Banten, 11 September 1933 ini pernah berdiri di garis depan dalam melawan dominasi orang-orang komunis: orang-orang yang di matanya anti-Tuhan.

Menteng, 19 September 2010

Editor :
Eko Hendrawan Sofyan