Jumat, 1 Agustus 2014
"Pesbukers" Bukan Lawakan, Melainkan Canda
Minggu, 7 April 2013 | 11:42 WIB
|
Share:
Arsip Pesbukers ANTV
Pesbukers, menurut pembuatnya, berisi canda para penampilnya, bukan merupakan program lawakan di layar kaca.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Masak air biar mateng. Kue putu bikinan empok Raras. Sapri lu jangan sok ganteng. Muke lu kayak kutu beras.

Bait pantun seperti itulah yang setiap hari menjadi mantra Oppie Kumis untuk memancing tawa di program Pesbukers di ANTV, untuk memancing tawa penonton. Kalimat pembuka "Masak air biar mateng" selalu diucapkan dua kali dan saling bersahutan dengan penonton di studio sebelum berlanjut ke baris berikutnya.

Jadilah kalimat itu trademark Oppie sekaligus pembuka program komedi yang telah dua tahun terakhir mengisi layar ANTV.

Baris kedua dan keempat dari pantun itu selalu berubah, tetapi intinya sama, yakni untuk meledek Sapri, pelawak lain yang menjadi "korban tetap" pantun tersebut. Wajah Sapri lalu dilumuri cat dan ditaburi bedak.

Pelawak berkepala botak itu selalu menjadi sasaran tembak karena polahnya yang ke-pede-an, sok ganteng, dan mengaku-aku artis. "Apa enggak kenal sama saya? Ini Dude Harlino," ujarnya. Lain waktu, manasuka ia mengaku sebagai Mike Lewis, Christian Sugiono, Ariel "Noah", atau artis-artis tampan lainnya.

Sapri juga tak mau kalah. Ia kerap membalas dengan pantun untuk meledek pemain lain. Salah satunya kepada Olga Syahputra, pemain Pesbukers lainnya. "Naik bendi ke Teluk Naga, pergi ke pasar membeli obeng. Lihat-lihat bodinya Olga, kok mirip kayak seng rombeng."

Begitulah pantun humor menjadi bumbu utama Pesbukers. Pesbukers juga meramu resep generik lain dalam tayangan komedi kita, utamanya slapstick yang dibungkus sketsa dan parodi.

Gaya meledek dan slapstick itu terbukti masih ampuh membuat penonton betah dan pada akhirnya mendatangkan rating. Pesbukers pun meraih penghargaan Panasonic Gobel Awards 2013 untuk kategori program Komedi Terfavorit. Saingan yang disisihkan, salah satunya komedi Opera Van Java (OVJ).

"Rating" tinggi
Pesbukers hadir secara langsung (live) di ANTV setiap Senin-Jumat pukul 18.00-19.30 dan rekaman pada akhir pekan pada pukul 18.00-19.00. Penanggung Jawab Produksi Pesbukers ANTV Antonius Kelly da Cunha mengatakan, tayangan yang berawal dari program Ramadhan 2011 itu memiliki rating dan share tertinggi di ANTV, di luar tayangan sepak bola. "Pesbukers menjangkau semua kalangan pemirsa," katanya.

Selain Oppie, Sapri, dan Olga, ada pula Denny Cagur yang menjadi motor utama kelucuan di setiap episode. Sederet pemain lain yang bukan pelawak, seperti Gading Marten, Jessica Iskandar, Kartika Putri hingga Luna Maya, turut berperan menghadirkan banyolan-banyolan di Pesbukers. Pada setiap episode, improvisasi pemain menjadi kunci penting karena mereka hanya disediakan alur dasar cerita serta beberapa "peluru" lelucon.

Pesbukers juga sering "memelesetkan" artis-artis cantik mereka untuk memperkuat humor. Jessica Iskandar, misalnya, memainkan karakter cewek lugu nan centil. Lain lagi dengan Kartika Putri yang tampil dengan logat ngapak-ngapak ala Banyumas-an. "Antusiasme penggemar untuk ikut menjadi penonton langsung di studio selalu tinggi," kata Manager Corporate Communications ANTV Yasmin Sanad.

Para pemain juga sesekali berinteraksi dengan penonton, baik yang hadir di studio maupun di rumah lewat sesi kuis. Penonton juga sesekali dijadikan sasaran lelucon para pemain.

"Ibu sama siapa di rumah?" kata Olga berbasa-basi saat menjawab seorang penelepon kuis. "Rame-rame," jawab si ibu. "Nelepon kok rame-rame? Pakai telepon koin ya bu?" kata Olga yang diikuti riuh tawa penonton di studio.

Pembeda
Eko Patrio, pemilik Komando Production yang bekerja sama dengan ANTV dalam memproduksi Pesbukers, mengatakan, program itu lebih mengusung konsep "becandaan" ketimbang lawak. "Lawak lebih fokus ke alur cerita, tetapi becandaan lebih lepas dari alur cerita," katanya.

ANTV berupaya membuat program komedi dari kehidupan sehari-hari agar bisa diterima semua kalangan. "Bahan-bahan lelucon selalu mengikuti aktualitas di masyarakat," kata Kelly.

Pesbukers menggunakan jurus komedi paling elementer, yaitu slapstick, atau jenis lelucon seperti mengoles wajah orang dengan krim hitam, lalu menaburi dengan bedak. Lelucon seperti itu paling mudah memancing impuls tawa penonton. Di Pesbukers gaya ini kadang mengarah menjadi lelucon yang agak banal. "Anak muda kadang membutuhkan lawak yang enggak jaim," kata Eko tentang model lawak slapstick.

Selain itu, di antara sejumlah acara komedi di televisi, Eko merasa perlu mencari unsur pembeda agar Pesbukers mempunyai karakter tersendiri sebagai tontonan komedi lain seperti OVJ (Opera Van Java) atau Stand-Up Comedy. Banyak cara memang menuju tawa. (Mohamad Final Daeng)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Ati Kamil