Galnas Gelar Karya Geneviève Couteau - Kompas.com

Galnas Gelar Karya Geneviève Couteau

Kompas.com - 27/01/2018, 08:20 WIB
Salah satu lukisan Geneviève CouteauDok. Pribadi Salah satu lukisan Geneviève Couteau

JAKARTA, KOMPAS.com--Institut Prancis di Indonesia (IFI) bekerja sama dengan Galeri Nasional Indonesia menggelar pameran lukisan dan gambar bertajuk “Geneviève Couteau: The Orient and Beyond” pada tanggal 25 Januari sampai 14 Februari di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Menurut Jean Couteau, penulis dan kolumnis yang menggagas acara tersebut, pameran menjadi sarana memperkenalkan karya perupa perempuan modern, Geneviève Couteau, yang datang ke Asia pada akhir tahun 1960-an sekaligus memantik diskusi mengenai konstruksi sejarah seni rupa Asia, khususnya Bali.

Jean Couteau mengatakan, “Pameran ini membuktikan adanya perupa lain di luar seniman-seniman ikonik tahun 30-an hingga 50-an seperti antara lain Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur dan Blanco. Geneviève Couteau telah menghasilkan karya yang tak kalah menarik, bahkan dengan pendekatan yang lebih universalis dan lebih feminin dibandingkan dengan para maestro sebelum Perang Dunia II.”

Realisme Magis Geneviève Couteau
Geneviève Couteau (1925-2013) dibesarkan di tengah keluarga trader saham yang ulet. Menjelang Perang Dunia II, bersama keluarganya ia mengungsi ke kota Nantes di mana ia melanjutkan sekolah hingga menikah dengan Joseph Couteau (1916-2004), seorang dokter hewan dari kota Clisson. Pasangan ini kemudian memiliki tiga anak; Edmée, Jean dan Pierre.

Lulusan terbaik sekolah tinggi Beaux-Arts Nantes (1951), Geneviève Couteau tampil sebagai pelukis terkemuka di Paris dan dianugerahi piagam bergengsi Prix Lafont Noir et Blanc pada 1952. Ia juga menulis buku “Mémoire du Laos” (Seghers, 1987) yang berisi pengalamannya datang ke Laos atas undangan Pangeran Souphanna Phouma dan buku kumpulan cerpen “Mykonos, Chronique d’une Ile” (Maisonneuve et Larose, 2002).

Ia kemudian mengunjungi Balidan bermukim selama beberapa waktu. Karyanya menampilkan sudut pandang khas seorang perempuan yang ketika berhadapan dengan “sang liyan” justru dengan empati menekankan persamaan jati dirinya.

Geneviève Couteau wafat pada 17 Desember 2013 dengan meninggalkan  banyak karya dan jejak perburuan estetik.


EditorJodhi Yudono
Komentar
Close Ads X