Empat musisi muda—Armand Maulana, Marcello Tahitoe, dan dua personel KOIL, yaitu Raden Mas Julius Aryo Verdijantoro atau Otong, dan Leon Ray Legoh—berkolaborasi ikut menyanyikan lagu ini.
Lagu pun dikemas dalam format baru. Anak-anak muda ini seolah kembali ke era 1980-an, dengan semangat baja menyanyikan lagi tembang yang mencuat pada puncak masa jaya musik rock Indonesia.
Mimpi berkarya bersama God Bless pun turut membakar semangat empat musisi tersebut. Melewati usia 43 tahun, God Bless sudah menjadi inspirasi bagi anak-anak muda ini.
“Ini salah satu musical journey gue yang berharga. Mungkin semua orang bermimpi bisa satu panggung atau nge-jamsama mereka,” ujar Ello, sapaan akrab Marcello Tahitoe.
Berkarya bersama, keempat musisi tersebut punya kesempatan bercengkerama bersama God Bless. Di belakang panggung, mereka duduk satu meja, melempar kalimat kagum untuk band rock legendaris itu.
“Inspirasional banget. Mereka bisa jadi musisi hebat karena punya dua hal, (yaitu) skill dan attitude yang luar biasa,” tambah Ello.
Dedikasi
Kiprah God Bless di blantika musik Indonesia selama 43 tahun memang bukan hal mudah. Dalam perjalanannya, mereka mengalami jatuh bangun termasuk beberapa kali ganti personel.
Tanpa dua hal itu, kata Ello, mustahil nama God Bless masih diingat dan bisa berdedikasi di musik Indonesia hingga sekarang.
“Mereka punya semangat baja untuk bertahan. Selain itu, (mereka) tetap satu visi dan (punya) toleransi. Gue lihat cara ngobrol mereka di belakang panggung masih bisa ketawa asyik dan saling lempar canda. (Keakraban macam) itu yang penting dan bisa membuat band bertahan sekian lama,” tutur Armand.