Prisa Rianzi: Musik Metal Ibarat Nyandu - Kompas.com

Prisa Rianzi: Musik Metal Ibarat Nyandu

Kompas.com - 04/05/2008, 09:30 WIB

JAKARTA, MINGGU - Musik metal itu seperti rokok. Pertama kali ”ngisep”, batuk, tapi sesudah itu bisa ”nyandu”. Begitu Prisa Rianzi (20) mengibaratkan.

Siapa Prisa? Nama Prisa dikenal di kalangan gitaris karena ia memang gitaris, lebih khusus gitaris beraliran metal. Bersama Vendetta, grup band heavy metal-nya yang berawak empat cewek, Prisa ingin mewujudkan idealismenya bermain musik. Awak Vendetta, katanya, ditanggung high skilled. ”Aku yakin Vendetta bisa dijual ke luar negeri,” tegasnya.

Di komunitas sekaligus situs gitaris.com, Prisa dinobatkan menjadi Miss Gitaris.com gara-gara kerap menjadi juru bicara mewakili komunitas. Ia menjadi semacam ikon lantaran sebelum kemunculannya, anggota komunitas hanya berisi cowok dan cowok melulu.
`
Mengapa memilih metal? Musik yang dijuluki musik keras seperti cadas itu, buat Prisa, mengalirkan rasa tersendiri kala didengarkan. Hmm... bagaimana rasa itu? ”Kalau denger musiknya, adrenalin langsung naik. Ada sensasinya, jadi head bang deh. Bagi orang yang enggak suka, denger metal memang menderita,” katanya.

Menjadi gitaris band metal itu membanggakan. Boleh dibilang, gitaris cewek yang memainkan musik metal, serta memiliki grup band metal berpersonel cewek semua, belum ada di jagat ini. ”Kalau pas turun panggung, rasanya keren banget,” tutur pengidola antara lain band Lamb of God, Arch Enemy, Killswitch Engage, Children of Bodom, dan Spawn of Possession ini.

Mau tahu penampilan Prisa? Jangan bayangkan seorang cewek tomboi dengan gaya bicara ceplas-ceplos. Tutur katanya justru lembut, menjurus ke gemulai. Ketawanya pelan, seperti malu-malu. Kalimat demi kalimat mengalir pelan dan teratur, tidak tergesa-gesa. (Eh, tapi menurut kakaknya, Prita, Prisa itu kalau marah galak juga).

Saat diwawancara di rumahnya di daerah Warung Buncit, Prisa bercerita ia tengah menjalani perawatan kulit wajah sehingga sebisa mungkin menghindari tempaan sinar matahari. Karena kerap dibubuhi make-up, kulit wajahnya menjadi berjerawat. ”Lagi jelek nih,” katanya sambil menutup wajahnya. Padahal cantik lho.

Selera musik boleh metal, tapi penampilan tetap kalem. Hal yang prinsip buat Prisa adalah menghindari minuman beralkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang. ”Kalau biasanya orang rock atau metal itu pergaulannya bebas lalu minum minuman keras, aku enggak ambil gaya hidup itu,” tegasnya.

Sejak SMP

Prisa mengenal gitar ketika usia 14 tahun, sewaktu kelas II SMP. Mulanya Prisa hanya iseng meminjam gitar kopong kepunyaan teman, tetapi lantas mengasyikinya, hingga ia pun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler musik di sekolah. Melihat semangat Prisa bermain gitar, kakaknya, Amir, menghadiahinya sebuah gitar pada ulang tahunnya yang ke-15.

Prisa juga belajar lewat buku berisi lagu-lagu yang dibubuhi chord, yang biasa dijual di kios kaki lima. Sampai pada suatu saat, ia minta orangtua mendaftarkannya kursus di Yamaha Music Indonesia. Di sana ia belajar gitar klasik selama dua tahun.

Pada usia 17 tahun, Prisa pindah menekuni gitar elektrik dan kursus di Farabi selama setahun, dilanjutkan kursus privat. ”Saat itu, aku mantap ingin menjadi gitaris beneran. Dan, belum jadi gitaris beneran kalau nggak pegang gitar elektrik,” ujarnya.

Gitar menjadi teman hidup Prisa. Ia makin aktif muncul di berbagai acara yang digelar komunitas underground dan band indie. Nge-jam bareng menjadi saat yang dinantikan. ”Aku merasa diterima sebagai bagian dari sebuah komunitas,” katanya.

Hidup dari musik

Lulus SMA, Prisa maunya kuliah di bidang musik, khususnya gitar. Namun, orangtua Prisa masih menyangsikan pilihan hidup putrinya. ”Ya kalau nggitar saja, duitnya kan angin-anginan,” jelasnya.

Prisa lantas kuliah di Fikom Universitas Moestopo, namun tak urung berhenti juga di semester IV. Pada akhirnya, orangtuanya mau mengerti dan menyerahkan pilihan kepada putrinya. ”Gitaris itu juga profesi, sama seperti pengacara. Aku enggak mau sekolahnya apa kok pekerjaannya beda,” terang Prisa.

Pada tahun 2005, sebelum mendirikan Vendetta, Prisa pernah membentuk grup, Zala, yang ngetop di kalangan underground. Bersama Zala, ia tidak hanya manggung di pentas metal underground, tetapi pernah diundang di ajang Java Jazz 2006.

Prisa sempat berintegrasi dengan band Dead Squad dan berpasangan dengan personel Andra & The Backbone, Stevie Item. Ia juga berkolaborasi dengan Eet Sjahranie, gitaris Edane, dan sempat dikontrak dua bulan menjadi gitaris tamu serta backing vocal grup Sheila On 7. Dengan band yang sedang melesat, J-Rock, ia pun berpadu.

Ya, memang masih kontrak-kontrak berskala tidak besar, tetapi Prisa yakin bisa hidup dari musik, bahkan indie sekalipun. Saat ini harga manggung Vendetta masih sekitar Rp3 jutaan. ”Namun kami terus menaikkan harga,” katanya optimistis.(Kompas)


Editor

Close Ads X