Penyair Indonesia Persembahkan "Kenduri Puisi" untuk Diha - Kompas.com

Penyair Indonesia Persembahkan "Kenduri Puisi" untuk Diha

Kompas.com - 07/07/2008, 12:10 WIB

Laporan Wartawan Kompas, Yurnaldi

JAMBI, SENIN -- Sebanyak 28 penyair Indonesia dari berbagai kota/kabupaten, memberikan kejutan kepada perempuan penyair Diah Hadaning atau lebih dikenal Diha. Mereka mempersembahkan puluhan puisi yang kemudian diterbitkan dalam buku Kenduri Puisi: Buah Hati untuk Diah Hadaning (Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2008).

Ahli Sastra dari Universitas Jambi, Dr Sudaryono MPd, kepada Kompas, Senin (7/7), menjelang dibukanya Temu Sastrawan Indonesia I di Jambi, mengatakan, Mbak Diha yang kini berusia 68 tahun, adalah sosok hangat, bersahabat, rendah hati, welas asih, dan motivator ulung yang selalu memberikan dukungan kehangatan serta royal memberi pujian.

"Apapun yang terjadi, senyumnya selalu mengambang seakan mengidungkan aneka tembang tentang kehidupan. Mbak Diha bagi banyak penulis di nusantara diakui merupakan sosok yang 'mau melayani' berbagai hal mulai dari masalah menulis, masalah sastra, rumah tangga, hingga hal-hal yang 'berbau' mistis," ungkap Sudaryono, yang bertindak selaku pemrakarsa untuk kenduri puisi.

Penyair di Kenduri Puisi ini antara lain Ahmad Badren Siregar, Dinullah Rayes, D Zawawi Imron, Endang Suprihadi, Jumari HS, Korrie Layun Rampan, Kurnia Effendi, Dimas Arika Mihardja, dan Wijang Warek Al Ma'uti.

Menurut Sudaryono yang juga dikenal sebagai penyair dengan nama Dimas Arika Mihardja, puisi memang unik. Melalui puisi, insan-insan berbudaya bisa meluapkan kegembiraan, sejenak melupakan beban kehidupan. Puisi serupa tali yang mampu mengikat persahabatan, memupuk kehangatan, dan menggalang kebersamaan.

"Puisi itu serupa lem yang mampu merekatkan angan-angan, menyatukan keinginan, dan memadukan impian. Bahkan dapat mengenyangkan batin, memuaskan dahaga jiwa, serta memberikan tawaran-tawaran yang khas," tambahnya.

Diah Hadaning mengatakan, selama penyair masih sadar ruang, sadar waktu, dan sadar peran, puisi tetap hidup, meskipun belum tentu bisa menghidupi jika penyairnya termasuk yang masih berkutat dengan ekonomi. "Jangan biarkan diri kita tergelincir pada gaya laris manis, bongkar pasang dan main-main dengan kata, karena mahkota puisi adalah bahasanya, pilihan katanya. Jika terlalu berindah-indah dengan kata, jadinya puisi pepesan kosong. Tak ada isi, tak ada nilai, tak ada visi dan misi," ujarnya.


Editor

Close Ads X