Trik Unik Mengajak Anak Bawa Bekal

Kompas.com - 15/07/2010, 05:44 WIB
EditorNF

KOMPAS.com - Membawa bekal ke sekolah akan membantu orangtua dalam banyak hal. Tak hanya mengurangi pengeluaran karena menurunkan jumlah uang jajan untuk anak, orangtua juga lebih tenang karena makanan yang disajikan bisa terkontrol kebersihan dan manfaatnya untuk anak. Namun, tak mudah untuk bisa mengajak anak mau membawa bekal ke sekolah ketimbang membawa uang jajan.

Ditemui di acara seminar "Aku Bersih, Aku Sehat, Aku Hebat!" untuk guru yang digelar Tupperware beberapa waktu lalu, Dr Suramono MP, Direktur Surveilan Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM), mengatakan, dari riset yang ia lakukan beberapa waktu lalu, sebanyak 68 persen anak jajan di kantin, dan 51 persen di antaranya jajan setiap hari. Dikelilingi oleh teman-teman yang membawa bekal setiap hari tentu akan membuat si anak merasa tidak "keren" atau "gaul", karena beda sendiri. Padahal, membawa bekal ke sekolah memiliki keuntungan yang jauh lebih banyak untuk kesehatan si anak.

Di kesempatan yang sama, dr Rose Mini A. Prianto, M.Psi, psikolog anak,mengatakan, jangan hanya menyalahkan anak yang malu untuk membawa bekal ke sekolah. Para orangtua dan guru juga penting untuk mengintrospeksi diri agar bisa memberi contoh. Menurut Bunda Romi, begitu ia akrab disapa, saat mempersuasi anak, dibutuhkan pemahaman cukup dan jangan sampai saat anak bertanya, tak bisa menjawab. Kalau sudah begitu, mana mau si anak percaya. Perlu diperhatikan pula cara persuasinya, kalau mencoba mengajak si anak bawa bekal, perhatikan nada suaranya, dan jangan selalu mengiming-imingi anak dengan uang setiap kali ingin ia melakukan sesuatu.

Ditekankan lagi oleh Bunda, setidaknya ada 4 hal yang dibutuhkan untuk membuat anak mau terpersuasi, yakni;

1. Pemahaman total dari orangtua atau guru. Anak sekarang sudah cukup kritis, tak jarang mereka akan bertanya "mengapa" ia harus menghentikan kebiasaan atau ia harus berbeda dari teman-temannya. Orangtua dan guru harus memiliki pemahaman total saat harus meminta anak untuk melakukan sesuatu.

2. Keterampilan untuk mempersuasi anak dengan kreativitas tertentu. Cara bicara, cara mengambil hati anak, juga cara penyajian makanan yang sehat serta enak untuk anak.

3. Harus jeli mengetahui apa yang kira-kira akan membuat si anak mau mengikuti permintaan si orangtua. Cobalah untuk menjadi lebih kreatif dalam meminta si anak melakukan sesuatu yang Anda inginkan. Jangan selalu mengiming-imingi anak dengan uang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

4. Konsisten. Anak juga akan mendapat kesan dan pesan yang salah jika Anda tidak konsisten dengan perkataan Anda. Satu hari Anda bilang tidak boleh jajan di sekolah, di lain hari, ketika Anda tak sempat membawakannya bekal, Anda malah memberinya uang jajan.

Hal-hal di atas adalah ketika kebiasaan tersebut belum dimulai. Namun bagaimana jika sudah terlanjur dimulai? Menurut Bunda Romi, cara penanganannya pun tergantung usia, gender, kesenangan, dan beberapa aspek lain dari si anak. Karena menghentikan kebiasaan akan mencetus respon. Kebiasaan terjadi karena dimulai, jika memungkinkan, stop sebelum dimulai. Jangan pula memberi contoh anak untuk jajan di luar. Bahkan untuk membeli jajanan di luar rumah setiap sore atau setiap pulang dari suatu tempat akan memberi ide kepada si anak untuk jajan pula.

Trik Unik
Salah satu contoh yang ditawarkan oleh Bunda Romi adalah dengan mencoba mengajak anak bicara dari hati ke hati, sesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kesukaan anak. Misal, jika si anak berusia 7 tahunan, bisa katakan, "Nak, kamu mau enggak liburan ke Bali? Kalau kamu mau, Ibu butuh bantuan, karena untuk liburan perlu uang yang cukup banyak. Kalau kamu bisa tidak jajan, dan uang jajannya ditabung, kamu bisa bantu kita liburan nanti setelah semester ini usai." Dengan cara ini, si anak memiliki tujuan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.