Doa Gitaris untuk Indonesia

Kompas.com - 06/11/2010, 03:15 WIB
Editor

”Tanah air pusaka

Indonesia merdeka

Syukur aku sembahkan

Kehadirat-Mu Tuhan...”

Lagu ”Syukur” gubahan H Mutahar itu mengalun tanpa kata-kata namun diucap lewat petikan gitar harpa berdawai 21 oleh gitaris Iwan Hasan. Saat gitar berdenting, lilin-lilin menyala. Lagu itu menjadi semacam doa untuk Tanah Air pusaka yang kini tengah tertimpa bencana. ”Syukur” dipanjatkan dalam pergelaran ”Dari Gitaris untuk Indonesia” di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (5/11) malam.

Begitulah cara seniman gitar mewujudkan empatinya kepada rakyat yang bertubi-tubi tertimpa bencana. Mulai banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai, sampai letusan Merapi. Para gitaris mengajak rakyat untuk mengumpulkan dana yang akan disumbangkan kepada para korban lewat Dana Kemanusiaan Kompas.

Seperti dalam pertunjukan rakyat, pada acara tersebut orang-orang bergerombol. Di antara mereka tampak Arifin Panigoro, Ratih Sanggarwati, Lala Hamid, Maya Hasan, dan khalayak dari berbagai kalangan. Mereka mengumpulkan uang lewat saweran ke dalam kotak amal. Rimba (16), pelajar SMA dari Kebayoran Lama, memasukkan uang Rp 5.000 ke dalam kotak. ”Cuma goceng aja. Itu yang ada di kantong saya. Tinggal sisa buat naik angkot,” kata Rimba yang ditertawakan teman-temannya. Namun, dari yang ”cuma goceng” itu, kemarin malam terkumpul uang sebanyak Rp 534.077.900.

Tak sedikit hadirin yang memasukkan lembaran Rp 100.000. Posko Jenggala menyumbang Rp 100 juta. Ada pula yang memilih memberi via rekening. Ada pula penyumbang, tetapi tidak hadir, seperti Trimedya Panjaitan, Pramono Anung, OC Kaligis, Hotma Sitompul, Hotman Paris Hutapea, Wisnu Chandra, Palmer Situmorang, juga PT Jaya Ancol. Pemandu acara Alvin Adam, Anya Dwinov, dan Ivi Batutah dengan luwes dan segar memandu lelang.

Pada acara tersebut juga diadakan lelang gitar. Sebuah gitar Fender Stratocaster model EJ milik Setiawan Djody terjual pada harga Rp 15 juta. Roy, lelaki yang menjadi penawar terakhir pada lelang itu, langsung menjajal gitar elektrik tersebut dengan memainkan sepotong riff lagu ”Smoke on the Water” dari Deep Purple. Gitar milik Piyu terjual seharga Rp 35 juta dengan pembeli Sandrina Malakiano yang datang bersama sang suami, Eep Syaifullah.

Sedangkan gitar milik Dewa Budjana terjual dengan harga Rp 40 juta. Pembelinya adalah Tony Sianipar yang mengaku terketuk hatinya untuk datang karena mempunyai kenangan dengan Yogyakarta, tempatnya bersekolah dulu. Di tengah lelang, Budjana memainkan gitar tersebut untuk mengiringi Armand Maulana menyanyikan lagu ”Akhirnya” gubahan Oddie Agam. Penonton yang terbawa suasana khusyuk ikut melantunkan lagu tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.