Oscar untuk Si Gagap dan Angsa Hitam

Kompas.com - 01/03/2011, 11:29 WIB
EditorEko Hendrawan Sofyan
Myrna Ratna

Kemenangan aktor Inggris Colin Firth dan Natalie Portman di ajang penghargaan Oscar 2011 bukan lagi kejutan. Akting keduanya begitu prima dalam The King’s Speech dan Black Swan.

Tentu saja ini merupakan puncak dari puluhan tahun kerja keras Colin Firth sejak ia memutuskan meninggalkan dunia sekolah dan menekuni akting pada usia 18 tahun. Gemblengan yang paling keras diperolehnya dari dunia teater.

Firth memulainya dari level yang paling bawah, sebagai pemeran figuran, penyaji minuman, sampai penerima telepon. Namun, di dunia teater itulah matanya terbuka. Ia memiliki akses untuk mengetahui rumor yang beredar di kalangan teater sampai di mana ada lowongan pekerjaan. Dari sini ia menyadari, untuk menjadi aktor panggung yang baik, ia harus mengasah dirinya lewat pendidikan.

Di London Drama Centre, Firth belajar akting enam hari seminggu selama tiga tahun. Kegigihannya itu tak sia-sia. Tawaran sebagai pemeran utama untuk drama besar, seperti Hamlet dan King Lear, kemudian mengalir. Ia menjadi salah satu pemain teater berbakat di Inggris.

Kelenturan Firth dalam menyerap rasa frustrasi akibat gagap, sehingga ia seperti gagap ”betulan” di film The King’s Speech, didukung oleh proses belajarnya dalam mengatasi demam panggung di dunia teater.

”Bahkan, saat terakhir kali tampil di panggung pun, aku mengalami rasa takut yang luar biasa. Sampai-sampai tidak bisa mengingat dialog yang harus kuucapkan. Itu adalah malam pembukaan dan ada monolog sepanjang dua lembar yang harus kuhafalkan. Saking paniknya, aku mengunci diri di kamar mandi, kemudian menyendiri di luar gedung untuk menghirup udara segar. Lima menit sebelum acara dimulai, aku malah terkunci di luar gedung. Akhirnya, aku terpaksa masuk dari arah penonton. Merekalah yang paling aku takuti. Ternyata setelah sampai di panggung, semuanya baik- baik saja,” kata Firth kepada Sunday Times.

Saat-saat menegangkan seperti itu bukan hanya dialaminya sewaktu harus bermonolog di panggung, tetapi kadang juga ketika harus melakukan konferensi pers sampai memberi sambutan.

”Menurut saya, seseorang yang mendadak hilang kelancaran berbicaranya tak ada kaitan dengan kemampuannya menyusun kalimat. Para penulis hebat pun kadang sangat buruk ketika harus berpidato,” ujar Firth kepada BBC News.

Itu sebabnya ia sangat tersentuh dengan biografi Raja George VI. Karena di balik kekurangannya, George VI adalah pribadi yang luar biasa.

”Seandainya saja Anda bisa membaca apa yang ia tulis, Anda akan tahu bahwa ia adalah pria dengan karakter elegan dan halus. Sungguh ironis jika ia dihakimi sebagai tokoh yang membosankan hanya karena ia tak mampu mengekspresikan dengan baik pemikirannya,” kata Firth.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

    Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

    Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

    Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

    Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

    Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

    Budaya
    In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

    In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

    Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

    Budaya
    Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

    Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

    BrandzView
    Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

    Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

    BrandzView
    Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

    Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

    Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

    Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

    Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

    Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

    Budaya
    Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

    Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

    Budaya
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X