Konser Maroon 5 Bermandikan Cahaya

Kompas.com - 28/04/2011, 03:50 WIB
Editoryuli

JAKARTA, KOMPAS.com -- Konser Maroon 5 yang berlangsung Rabu (27/4/2011) malam di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, benar-benar mantap. Konser yang dipromotori oleh JAVA Musikindo itu berhasil memukau para penonton dengan aksi panggung dan sound system yang luar biasa.

Tak ketinggalan, para penonton disuguhi pula permainan lampu sorot yang memukau yang menjadikan konser itu seperti bermandikan cahaya di tengah gelapnya malam.

Maroon 5, band asal Los Angeles, California, Amerika Serikat, itu dipunggawai Adam Levine (vokalis dan gitaris), James Valentine (gitaris), Michael Madden (basis), Matt Flynn (drummer), dan Jesse Carmichael (keyboardist). Mereka tampil di Tennis Indoor setelah sebelumnya melakukan hal serupa di Singapura. Lima personel ditambah satu personel lain yang menjadi keyboardist di panggung menyajikan hampir semua tembang hit mereka.

Mereka menyapa para penonton dengan lagu andalan terbaru, "Misery". Aksi panggung dimulai dengan menggelapkan seisi panggung. Tiba-tiba, satu per satu pemain dimunculkan dengan memberi sorotan lampu dari atap panggung.

Jreng-jreng-jreng sebanyak enam kali, sehingga semua personel terlihat oleh para penonton. Memukau, itulah efek yang didapatkan oleh para penggemar yang sesak memenuhi Tennis Indoor, baik di tribun (duduk di tepian) maupun festival (berdiri di tengah).

Sontak, para penonton berteriak riuh memekikkan suara, "Waaahhh...". Ditambah, sang vokalis menjadi personel terakhir yang dimunculkan, kian histerislah para penggemar.

"Aku suka banget, love it. Apalagi ketika saat dimulai pertunjukan, satu per satu pemain dimunculkan (dengan lampu sorot). Apalagi ketika Adam muncul terakhir, 'ahhhh...'," tanggap Sissy Priscillia usai konser, saat dimintai pendapatnya oleh Kompas.com. Sissy saat itu datang bersama sang suami, Rifat Sungkar.

Adam malam itu terlihat seksi. Ia berbalut pakaian biasa ala kadarnya, t-shirt putih dan celana jeans ketat, yang tidak menghalanginya untuk memiliki penampilan sempurna malam itu. Tato di tangannya yang terlihat juga menambah kesempurnaan, selain tentunya aksi panggungnya, termasuk liukan goyangan tubuhnya.

Pengamatan Kompas.com, saat itu panggung ditata sedemikian mungkin sehingga memiliki banyak lampu sorot, di atap, di belakang, dan di bawah depan panggung. Kilauan warna-warni cahaya disorotkan dan dimainkan ke arah para punggawa Maroon 5 dan penonton. Terhitung, sekitar 15 lampu sorot dengan susunan lima banjar dan tiga baris (5x3 atau 15) berada di sisi belakang panggung dan sekitar enam lampu sorot di bawah depan panggung.

Tanpa basa-basi, tanpa band pembuka, Maroon 5 langsung main dengan membawakan lagu "Misery". Para penonton langsung dihajar dengan dua lagu berikutnya, "If I Never See Your Face Again" dan "Harder to Breathe", dan kemudian berhenti sebentar.

Adam juga menyapa para penontonnya, "Terima kasih," dengan sangat fasih dan cepat. Saat itu, kira-kira 12 lagu, yang hampir semuanya merupakan hit, dimainkan oleh Maroon 5.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X