LPSK: Arumi Bisa Pulang Asal Cabut Laporan

Kompas.com - 13/05/2011, 10:49 WIB
EditorEko Hendrawan Sofyan

JAKARTA, KOMPAS.com -- Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Abdul Haris Semendawai mengatakan kasus Arumi Bachsin sebenarnya merupakan kasus sederhana.

Menurutnya, kasus ini berawal dari seorang anak yang mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), yang berujung pada tekanan psikis. Karena terancam, ia lantas melaporkan kasus itu kepada Kepolisian. Namun pada perjalanannya, kata Abdul, menjadi tidak sederhana ketika prosedur yang ada tidak ditaati, termasuk proses mediasi yang belum menghasilkan keputusan mengembalikan Arumi pada orang tuanya.

"Untuk kasus Arumi, perkaranya sederhana. Ada seorang anak, Arumi ini, melarikan diri dari rumahnya karena merasa diperlakukan tidak tepat oleh orang tuanya. Karenanya, dia melaporkan ibunya ke Kepolisian dengan tuduhan orang tuanya melakukan pelanggaran dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Nah, kemudian atas laporan tersebut, polisi melakukan penyidikan. Pada saat polisi telah melakukan penyidikan, si Arumi minta perlindungan ke LPSK," kata Abdul saat sosialisasi LPSK, di Hotel Akhmani, Menteng, Jakarta, Kamis (12/5/2011).

Dari situ LPSK meneliti permohonan itu dan melihat  apa posisi korban dan bagaimana bentuk kekerasan yang dialami korban. "Ditanyakan ke kepolisian penyidik. Penyidik bilang yang bersangkutan harus dilindungi LPSK karena dia mengalami pemaksaan untuk kembali ke rumahnya. Dia pernah lari, kemudian dipaksa kembali ke rumahnya. Bahkan, jika tidak dilindungi, anak ini akan bunuh diri. Itu penyidik yang berbicara," lanjut Abdul.

Untuk memenuhi permohonan Arumi, menurutnya, tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan, LPSK harus tunduk pada peraturan yang berlaku. Menurut ketentuan prosedur itu, LPSK sejak adanya permohonan Arumi dan hasil penyidikan Kepolisian yang membenarkan permohonan Arumi, LPSK harus meminta peradilan mengesahkan perlindungan Arumi oleh insitusi tersebut.

"Karena Arumi anak di bawah umur, tidak serta-merta bisa dilindungi. Harus diajukan Arumi dan pengacaranya untuk pengadilan agar mendapatkan kelengkapan dari pengadilan. Dibawa ke pengadilan, kemudian ada keputusan hakim untuk Arumi dilindungi oleh LPSK. Berdasarkan putusan itulah LPSK melaksanakan tugas perlindungan," papar Abdul.

Jadi, apabila kasus Arumi semakin berlarut tanpat terlihat memperlihatkan intensi mempertemukan Arumi dengan kedua orang tuanya, diharapkan tidak menyalahkan LPSK. "Seandainya LPSK mengembalikan AB kepada orang tuanya, padahal sudah ada keputusan dari hakim. Keliru nggak kita? Apakah boleh LPSK mengabaikan keputusan pengadilan? Kalau kita mengabaikan, apa namanya negara ini, bukan negara hukum lagi namanya. Kalau Arumi itu dikembalikan ke orang tua bisa saja. Asalkan Arumi mencabut permohonan perlindungannya," tambah Abdul.

Dijelaskan, ketika Arumi mencabut permohonannya, LPSK pertama-tama akan menilai dan kemudian menjalankannya sesuai dalam koridor hukum yang semestinya, kemudian muncul keputusan baru tentang status perlindungan Arumi oleh LPSK. Diterangkan pula, tidaklah benar bahwa selama ini Arumi disembunyikan total.

Arumi telah dipertemukan dengan beberapa pihak keluarga beberapa saat lalu sebagai salah satu jalan memfasilitasi proses mediasi dirinya dengan kedua orang tuanya. "Jadi keliru jika Arumi tidak dipertemukan. Ini bukan karena LPSK juga, tapi karena Arumi tidak mengkehendaki (untuk dipertemukan)," sambungnya.

-



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X