Jojon Terus Kreatif Unjuk Kumis

Kompas.com - 24/07/2011, 03:13 WIB
Editor

Jojon adalah celana komprang dan kumis ala Charlie Chaplin. Trade mark itu sudah paten di pentas lawak selama lebih dari 35 tahun. Kini, komedian asal Karawang, Jawa Barat, bernama lahir Djuhri Masdjan itu menapak ke usia 64 tahun. Di satu sisi, ia masih membawa citra lama tersebut, tetapi di sisi lain ia mampu bermain dengan pelawak-pelawak muda serta berkomedi di zaman yang berubah.

Jojon dikenal lewat Jayakarta Group, kuartet lawak yang dibentuk pada tahun 1978 berawak Cahyono, U’uk, dan Johnny. Mereka tampil di tempat hiburan, seperti kelab malam dan di acara hiburan televisi, seperti ”Kamera Ria” atau ”Aneka Ria Safari”.

Dalam acara televisi yang didominasi musik tersebut, lawak hanya menjadi selingan. Kelompok lawak diberi waktu 15-20 menit untuk beraksi. Untuk itu, pelawak dituntut dalam waktu cepat mampu meledakkan tawa. Itu mengapa dari penampilan yang relatif singkat tersebut grup lawak dikenal, termasuk Jojon dan Jayakartanya.

Suatu kali pada awal 1980-an, Jayakarta tampil dengan cerita Romeo-Juliet. Cahyono menjadi sutradara, Jojon berperan sebagai Romeo, sedangkan Juliet diperankan U’uk, lelaki yang memang sering didandani sebagai perempuan. Menghadapi Juliet dengan wajah sangar dan berantakan tersebut, Jojon memasang muka muak (ingat, ekspresi wajah dan gerak tubuh merupakan salah satu kekuatan lawak Jojon). Dengan mimik lucu itu, ia memanggil sang sutradara, ”Cahyonoooo....”

Intonasi pemanggilan itu menaik berlenggok pada bagian suku kata ”noo...oo...ooo.” Cara memanggil itu mendatangkan ledakan tawa. Dan sejak itu, setiap kali Jojon memanggil Cahyono, penonton tertawa.

Menghadapi pelawak muda

Saat ini mungkin lawakan lama semacam itu sudah tidak mendapatkan ”poin”. (Poin adalah istilah Jojon untuk menyebut lawakan yang mendapat respons tawa penonton). Jojon menyadari benar bahwa panggung komedi akan terus berubah. Pelawak-pelawak muda dengan beragam gaya lahir. Begitu juga penonton baru bermunculan. Jojon menyikapi dengan bijak.

”Saya menghadapi perubahan ini dengan tidak mau bersikap sebagai senior. Jangan merasa kita ini paling berpengalaman. Saya terjun dan bergaul dengan anak-anak (pelawak muda), saya bergaul dengan mereka. Jangan salah, mereka juga mau belajar dan kreatif,” kata Jojon yang akan muncul pada acara sahur di ANTV.

Jojon juga sadar bahwa pola atau format penyuguhan komedi juga akan selalu berubah seturut konsep pengelola stasiun televisi. Jojon yang dulu lebih sering tampil dalam lawakan panggung dengan format kuartet, belajar untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri. ”Saya tanya mereka mau buat apa, saya tinggal mengikuti saja.”

Mengikuti, bagi Jojon, bukan berarti larut atau menghilangkan karakter lawakannya. Jam terbangnya di pentas lawak secara tidak disadarinya sangat berperan dalam memberi arah dan warna lawakan bersama pelawak-pelawak muda. Ia, misalnya, sering menjumpai rekan main pelawak muda yang semuanya ingin bicara sehingga celah untuk melontarkan lawakan menjadi mampat. Dalam kondisi seperti itu, Jojon akan mengambil peran sebagai pengontrol, pengarah, atau semacam pemberi pancingan: suatu hal yang dulu dalam Jayakarta dipegang oleh Cahyono.

”Ego mereka masih tinggi sekali. Mereka berambisi mencari poin (mendapatkan letupan tawa). Akhirnya lawakan menjadi over, tidak fokus. Menghadapi hal demikian, saya mengalah agar bisa mengontrol dan membimbing. Mana yang terasa over, saya alihkan. Saya membuka peluang bagi mereka untuk menyatu dan masuk membuat poin.”

Naskah

Jojon tumbuh dalam model lawakan spontan, tanpa naskah. Dalam Jayakarta dulu, misalnya, ia dan Cahyono merancang cerita dan skenario sederhana. Di Srimulat, sistem tersebut disebut penuangan. Jojon sempat agak kikuk ketika harus masuk dalam sistem naskah di televisi. Kadang naskah tidak sesuai dengan karakter atau gaya lawakan Jojon.

Ia kadang menghadapi materi naskah yang baginya tidak mengangkat suasana, alias tidak lucu. Ia biasanya akan berembuk dengan penulis naskah, sutradara, dan produser acara.

”Kalau kita hanya mengikuti naskah, lawakan akan jeblok dan kita tidak mendapat poin....” Maksudnya, membuat orang tertawa.

Naskah di atas kertas memang penting. Namun, yang lebih penting lagi adalah bagaimana sang komedian mengeksekusi gagasan dalam naskah itu di atas panggung. Pengalaman pentas dan kemauan Jojon untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan panggung komedi membuat pelawak asal Karawang itu terus berunjuk kumis dan celana komprangnya di pentas lawak hari ini. (XAR)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X