Tio: Banyak Film Indonesia Kehilangan Arah

Kompas.com - 17/11/2011, 18:48 WIB
EditorEko Hendrawan Sofyan

BALI, KOMPAS.com -- Indonesia boleh berbangga akan kemajuan perfilman di Tanah Air. Setidaknya, di tingkat ASEAN, perfilman Indonesia menunjukkan kualitas yang lebih baik. Begitu disampaikan aktor senior Tio Pakusadewo, ketika menghadiri perhelatan ASEAN Film Festival (AFF) di Bali, pekan ini.

"Kalau bicara mengenai ketertinggalan, seperti film Myanmar, film Indonesia tahun 1950 juga sudah (berkualitas) seperti itu. Jadi ternyata ada kok yang lebih tertinggal dibanding negara kita," kata Tio saat berbincang dengan Kompas.com di The Patra Bali Resort and Villas, Kuta, Bali, Rabu (16/11/2011).

Dalam perkembangannya, perfilman Indonesia dewasa ini dianggap Tio hampir setara dengan film yang diproduksi negara maju. "Di negara kita, kalau bicara teknologi, apa sih yang enggak ada? Karena kalau orang bule main di sini, semua teknologi pasti dia sediakan, alat-alatnya juga ada. Jadi secara teknis kita itu enggak ketinggalan," urai Tio.

Hanya saja perkembangan tersebut tak diikuti dengan kemajuan muatan film. "Secara konten kita kehilangan banyak arah, kita banyak kehilangan pijakan. Orang itu bikin cerita akarnya enggak kuat, coba lihat saja film sekarang, apalagi kalau kita lihat sinetron itu waduh...," keluh Tio.

Mengenai usaha Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadikan film sebagai potensi ekonomi yang patut diperhitungkan, menurut Tio bukanlah hal yang mustahil. "Film memang bisa meningkatkan ekonomi kreatif asal filmnya berbobot. Tapi sekarang banyak enggak film kita yang berbobot? Kalau kita menerapkan itu (film berbobot), film asing pasti enggak akan ada apa-apanya. Tapi masalahnya kita sendiri sudah banyak kebobolan," jelas Tio.

"Selama ini strategi kita salah, kalau pemerintahnya benar, marketingnya benar, kita sebenarnya bisa menekan film asing," imbuhnya.

Untuk menuju peningkatan ekonomi kreatif, menurut Tio, perfilman Indonesia sudah sepatutnya memperkuat jaringan. "Kita harus punya link yang bagus. Seperti film The Raid (Serbuan Maut), itukan film gebuk-gebukan, tapi laku. Ini karena sutradaranya punya link yang bagus di Amerika sana. Mau sebagus apa pun filmnya kalau link-nya kurang bagus itu akan susah laku," katanya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.