Hantaman Joe Taslim dalam Fast and Furious

Kompas.com - 19/05/2013, 03:38 WIB
Editor

"Ayo hantam mereka…”, kalimat itu keluar dari bibir Jah, salah satu karakter penjahat anggota komplotan Shaw dalam film Fast and Furious 6 yang dibintangi Vin Diesel, Paul Walker, Michelle Rodriguez, Dwayne Johnson, dan Luke Evans.

Terasa aneh, kalimat dalam bahasa Indonesia tersebut muncul dalam sekuel termutakhir film kondang Hollywood tersebut. Usut punya usut, ternyata pemeran Jah adalah aktor asal Indonesia, Joe Taslim.

”Itu memang film luar, tapi gue tak mau dijadikan bukan orang Indonesia,” kata Joe menjelaskan alasannya memasukkan bahasa Indonesia dalam Fast and Furious yang akan diputar perdana di Indonesia pada 22 Mei 2013.

Oleh karena itu, Joe mengaku sangat senang saat sutradara film tersebut, Justin Lin, memberi kesempatan untuk memakai bahasa asal masing-masing pemain dalam salah satu adegan. Yang lebih menggembirakan lagi bagi Joe adalah tokoh Jah yang dimainkannya diplot sebagai orang Indonesia, meskipun tak disebutkan secara verbal dalam film. Padahal, biasanya orang Asia yang main di film Hollywood itu sering kali diplot sebagai orang Hongkong, China, Korea, atau Jepang.

”Tapi di film itu mewakilinya bukan orang Asia, tapi Indonesia. Jadi, bisa mewakili Indonesia itu keren banget,” ujar Joe di Jakarta, Jumat (17/5).

Joe tak sekadar numpang lewat. Dia hadir dari awal hingga sesi akhir Fast and Furious. Sebagai pemeran antagonis, dia banyak terlibat sejumlah adegan keras, mulai dari dikeroyok, menghajar orang, kebut-kebutan di atas jalan raya, hingga mengemudikan tank.

Namun, berbagai adegan yang terlihat berbahaya itu bagi aktor kelahiran Palembang, 23 Juni 1981, ini tak terasa berat, meski semuanya dijalaninya tanpa pemeran pengganti. Pasalnya, segala adegan di film itu telah dipersiapkan secara teknis dengan matang. ”Jadi, nyaman banget

karena pernah merasakan yang lebih gila,” kata peraih medali perak cabang olahraga judo Sea Games 2007 ini.

Sersan Jaka

Sebagai aktor laga, pengalaman Joe memang terbilang belum banyak. Praktis sebelum berperan sebagai Jah di Fast 6, dia hanya membintangi The Raid. Namun, itu tak membuat Joe berkecil nyali ikut casting film yang berkisah tentang aksi heroik para jago balap itu.

Rupanya, aksinya sebagai Sersan Jaka di The Raid menarik minat Justin Lin untuk menguji kemampuan akting Joe. Kemampuan bahasa Inggris Joe pun juga diuji. ”Secara paperwork birokrasi memang menjadi pertimbangan. Ribet juga untuk benar-benar memastikan saya cocok. Setelah audisi ternyata cocok,” ujar dia.

Setelah lolos audisi, Joe pun memutuskan pergi ke London selama mengikuti proses shooting. Selama 4 bulan dia tinggal di London membawa istri dan ibunya. Dia harus meninggalkan anak-anaknya di rumah.

Berbeda dengan peran sebagai Sersan Jaka dalam The Raid, yang heroik, di Fast 6 Joe menjadi tokoh antagonis yang cenderung kejam dan selalu memasang muka sadis. Mengenai hal ini, Joe mengaku tidak tahu pasti alasan sang sutradara. ”Mungkin keyakinan sutradara saja. Ini anak kayaknya cocok berperan seperti itu,” kata dia.

Pada awal-awal proses shooting, dia mengaku minder bermain bersama aktor-aktor top sekelas Vin Diesel, Paul Walker, dan Dwyane Johnson. Sebagai pendatang baru, dia khawatir tak ”dianggep” oleh aktor-aktor terkenal itu. Namun, setelah melalui perkenalan yang sopan, ternyata respons rekan-rekan mainnya itu sangat positif.

”Saya bilang saya newcomer, saya mainin Jah. Mohon petunjuk agar bisa mainin karakter bareng. Ternyata mereka baik-baik. Mereka bilang sudah nonton The Raid dan suka,” tutur dia.

Pola kerja perfilman Hollywood yang tertata dan terorganisasi secara profesional, sangat membantu pendatang baru seperti dirinya untuk lebih mudah mengikuti ritme pembuatan film. Segala hal terstruktur dengan baik, dengan jumlah kru yang sangat besar. Satu orang kru bahkan hanya mengurusi satu hal.

Meskipun dua film pertamanya bergenre laga, Joe mengaku tak pernah berkeinginan berspesialisasi pada film laga. Sejak kecil dia hanya ingin menjadi bintang film, tak hanya laga, tapi juga komedi, drama, ataupun hantu. ”Yang penting bukan film porno saja, ha-ha-ha...,” celetuknya.

Kendati telah ikut membintangi film Hollywood, Joe mengaku belum pantas disebut sebagai aktor internasional. Banyak hal yang masih harus dipelajarinya. ”Secara teknis mungkin iya, tapi secara kualitas masih jauh,” kata dia.

Dia senang, tak banyak adegannya dalam Fast 6 yang dipotong saat harus dipadatkan menjadi tayangan 2 jam. Padahal, sejak awal dia sempat berpikir pendatang baru seperti dirinyalah yang akan banyak dikorbankan.

Tapi yang paling membuat dia senang adalah dapat membintangi film yang bakal ditonton ratusan juta orang di seluruh dunia. (M Burhanudin)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.