Anak Papua di Australia Bawa Musik Nusantara untuk Publik Australia

Kompas.com - 30/09/2013, 08:52 WIB
From Dawn to Dusk indonesiakreatif.netFrom Dawn to Dusk
EditorPalupi Annisa Auliani
MELBOURNE, KOMPAS.com - Panggil saja dia Enos. Sosok yang ramah, murah senyum, dan tutur katanya tertata dalam intonasi yang terjaga. Nama lengkapnya Randy Enos Hallatu, musisi berbakat kelahiran 2 Maret 1984 di Jayapura, Papua, Indonesia.

Melalui Indonesian Melbourne Musician Network (IMMN) yang dipimpinnya, Enos memberi warna Indonesia dalam denyut musik di Melbourne, Australia. Publik di kota paling layak huni di muka bumi ini tak lagi asing dengan komposisi Nusantara garapan Enos dan kawan-kawan. Pagelaran From Dawn To Dusk (FDTD)  I pada 2012 dan FDTD II pada 2013 menjadi pembuktian IMMN.


FDTD adalah ajang kolaborasi alat musik Nusantara dalam kemasan modern. Laiknya segala hal yang dianggap biasa di nusantara, dimulai dari barat ke timur, dari Sabang baru mengarah ke Merauke, demikian pula soal nuansa musik selama ini menurut Enos.

Lewat karya musiknya, Enos mencoba menyampaikan kritik. Ia coba membalik wacana itu. Dari terbit matahari hingga terbenam. Dari timur ke barat. Semoga suatu ketika pun pembangunan melaju seiring perputaran matahari.

“Bahasa saya adalah musik. Aspirasi sebagai warga Papua saya salurkan melalui karya seni. Papua sudah menyatu dan ikut mewarnai budaya Indonesia,” tutur Enos. “Politik bukan bidang saya, tetapi saya menghargai saudara-sadara saya yang memilih jalan itu,” tambahnya terus terang.

Enos mengaku percaya, jalan kebudayaan adalah solusi untuk merawat integrasi Indonesia. "FDTD itu semacam gado-gado. Semua bahan diaduk menghasilkan sajian yang mengandung segala rasa," kata dia.

indonesiakreatif.net Para musisi lokal dilibatkan pula dalam hajatan From Dawn to Dusk II, ajang musik yang menampilkan harmoni nada nusantara dengan kemasan modern, di Melbourne, Australia.

Dalam FDTD, ada gamelan, angklung, kendang, saluang, seruling, dan aneka alat musik tradisional Indonesia lainya menyatu dengan bebunyian alat-alat musik modern. Hasilnya, musik Nusantara rasa dunia.

FDTD menyajikan musik yang ringan dan dinamis, tetapi tetap menghadirkan kontemplasi pada beberapa bagian. Tak heran jika sambutan penonton selalu meriah dalam pementasan mereka. FDTD juga menjadi sajian multikultural.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para pemain Indonesia berasal dari berbagai suku dan agama, begitu pula para penampil asal Australia berakar dari berbagai belahan dunia. Sajian ciamik itulah, aransemen seorang putra Papua yang sangat bangga dengan ke-Indonesia-annya.

“Tahun depan kami harus bisa tampil di Melbourne Convention Centre,” tutur Enos optimistis. MCC adalah salah satu gedung untuk pertunjukan musik terbaik di Melbourne. Grup Trio Lestari  - trio beranggotakan Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, dan Rio Febrian - pernah merasakan kenyamanan akustik gedung ini dalam penampilan mereka di acara Ecetera 2012.

Penampilan FDTD I dan II memang masih terasa kurang maksimal karena keterbatasan akustik gedung yang digunakan. Karenanya, tampil di MCC menjadi sebuah keinginan yang menyemangati. Enos dan kawan-kawan IMMN juga berambisi untuk memasukkan pagelaran mereka sebagai agenda tahunan City of Melbourne.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X