Galeri Indonesia Kaya, Membawa Seni ke Mal - Kompas.com

Galeri Indonesia Kaya, Membawa Seni ke Mal

Kompas.com - 10/10/2013, 19:37 WIB
Djarum Foundation Selasar santai
JAKARTA, KOMPAS.com--Bakti Budaya Djarum Founation membangun sebuah ruang publik yang didedikasikan untuk masyarakat dan dunia seni pertunjukan Indonesia bernama Galeri Indonesia Kaya (GIK) yang berada di West Mall Grand Indonesia Shoping Town lantai 8, Jakarta Pusat.

Menurut Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, pembangunan GIK berawal dari kepedulian Djarum Foundation terhadap perkembangan seni budaya Indonesia dan karena kurangnya ruang publik di Jakarta, fasilitas dan sarana untuk para seniman muda berbakat dan informasi tentang budaya Indonesia yang mudah untuk dipelajari dan diakses. "Untuk itu kami mempersembahkan sebuah ruang edutainment seni dan budaya di pusat kota yang dekemas dengan cara kekinian agar mudah diterima oleh masyarakat, khususnya generasi muda," tutur Renita.

Memasuki GIK, pengunjung akan disambut salam pemuda-pemudi Indonesia berbaju adat dari berbagai daerah di Nusantara yang muncul di layar multimedia. Selanjutnya, video mapping dengan bentuk wayang kulit, akan menceritakan penggalan-penggalan Mahabarata tentang Pandawa melawan Kurawa terhampar di hadapan pengunjung. Belok kanan, pengunjung akan mendapati "kaca pintar" yang merupakan kumpulan obyek budaya di seluruh nusantara mulai dari pariwisata, kuliner, kesenian dan tradisi dengan tampilan yang menarik di atas layar touch screen.

Tiga langkah berikutnya, pengunjung akan mendapati multimedia touch screen yang membahas seluk beluk budaya Indonesia dari banyak sisi, seperti dari sisi geografis, kebiasaan dan asal usul. Selanjutnya, pengunjung dapat berfoto dengan pakaian adat digital dari seluruh nusantara. Aplikasi ini terhubung dengan social media sehingga pengunjung dapat mengunggah fotonya.

Berbagai macam alat musik Nusantara juga dihadirkan secara digital dengan bentuk touch screen. Pengunjung dapat bermain dan mengaransemen musiknya sendiri. Sampai di selasar santai pengunjung dapat bersantai menikmati Galeri Indonesia Kaya. Di dalam selasar santai terdapat 10 tablet yang bebas dipakai. Pengunjung dapat mencoba bermain permainan tradisional, seperti congklak secara virtual yang diciptakan mirip dengan permainan aslinya. Berteknologi Microsoft Surface, Layar Telaah Budaya menampilkan informasi budaya secara Interaktif cukup dengan meletakkan kartu dengan obyek budaya yang diinginkan.

Auditorium berkapasitas 150 orang itu diresmikan hari ini, Jumat, 10 Oktober 2013 oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu. Mulai besok, Jumat (11/10), GIK bisa dinikmati untuk umum sejak  pukul 09.00 sampai pkl 22.00 wib.

Menanggapi kehadiran GIK, aktris teater Ratna Riantiarno mengaku bahagia dengan adanya tempat ini, "Sebaiknya jangan cuma satu, di Jakarta selatan ada, Utara ada, Barat ada," ujar Ratna.

"Kalau perlu, setiap kota ada satu, seperti yang ada di Jepang dan Perancis," timpal N Riantiarno.

Senada dengan Ratna, aktor Butet Kertaredjasa juga memuji kepedulian Djarum terhadap dunia seni dan budaya Indonesia. "Maklumlah, selama ini seni dan budaya cuma jadi ban serep dan digunakan pas ada masalah, saat Ambon menyala, Aceh menyala, seniman baru dimanfaatkan. Gedung pertunjukan ini seperti yang diimpikan mas Nano Riantiarno, sebuah gedung pertunjukan dengan 100 kursi," terang Butet.

GIK yang berlokasi di pusat perbelanjaan diharapkan bisa menjadikan seni dan budaya sebagai gaya hidup masyarakat masa kini, khususnya generasi muda dan insan kreatif serta dapat memperkaya mereka dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan Indonesia.

Konsep desain GIK mengangkat kekhasan Indonesia dalam kekinian yang nampak pada interior seperti rotan, motif parang, bunga melati, batok kelapa dan kain batik tulis dari 12 daerah sebagai ornamen.


EditorJodhi Yudono

Close Ads X