"The Raid 2: Berandal", Brutal Dosis Tinggi

Kompas.com - 23/03/2014, 15:27 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com — Film laga Indonesia, The Raid, sejak pertama diputar tahun 2011 telah merebut penggemar tersendiri yang tak sabar menunggu kelanjutannya. The Raid 2: Berandal yang segera diputar pekan depan akan memuaskan jenis penonton yang menggemari film penuh aksi tarung, kekerasan sadis, dan kebrutalan dalam dosis tinggi.

The Raid 2: Berandal kali ini disuguhkan dalam ramuan yang lebih memberi porsi pada cerita drama selain aksi laga. Penonton tak hanya diajak menikmati adegan-adegan tarung fantastis, tetapi juga diajak menebak-nebak cerita yang sedang terjalin.

Adegan dibuka dengan pertemuan antara polisi muda, Rama (Iko Uwais), dan Bunawar (Cok Simbara), polisi senior dengan reputasi bersih dan jujur. Adegan ini merupakan jembatan penghubung dengan adegan akhir dalam The Raid pertama (The Raid: Redemption, 2011). Rama menyeret polisi korup Wahyu (Pierre Gruno) yang dilumpuhkannya—plot terakhir dalam The Raid: Redemption—untuk dihadapkan kepada Bunawar.

Dari adegan awal inilah, The Raid 2: Berandal seolah telah menetapkan posisi sikap yang jelas terhadap kebatilan. Rama, sang polisi idealis, terperangah ketika melihat Bunawar dengan dingin membiarkan anak buahnya menghabisi nyawa Wahyu. Dari perdebatan Rama dan Bunawar pun terlihat, kedua polisi baik ini memilih jalan yang berbeda. Rama masih menginginkan proses hukum sekalipun terhadap polisi bejat seperti Wahyu. Sementara Bunawar sudah patah arang dengan penegakan hukum di negara mereka—yang tak dinyatakan jelas sebagai Indonesia—menganggap tak ada gunanya memberi kesempatan kepada polisi bajingan seperti Bunawar.

Bagi Bunawar, negeri dengan penegakan hukum yang sudah sedemikian korup sudah tak bisa lagi dibereskan dengan cara normal. Sebab, aparat hukum dan mafia menjadi satu entitas yang lebur. Baginya, cara yang mau tak mau ditempuh adalah dengan pembantaian para bajingan korup dan berbahaya.

Dari sikap itulah, plot drama The Raid 2: Berandal bergulir. Rama yang semula enggan dengan pilihan cara Bunawar akhirnya terseret dalam operasi rahasia Bunawar yang penuh ketegangan. Terlebih setelah Rama mengingat kakaknya yang dibunuh oleh salah satu target operasi mafia kejam bernama Bejo (Alex Abbad).

Ketegangan beragam
The Raid 2: Berandal berdurasi 148 menit memberikan lebih dari sekadar aksi tarung yang memikat. Sutradara asal Inggris, Gareth Evans, semacam membuat diversifikasi ketegangan. Adegan-adegan menegangkan terserak lebih beragam dalam aksi tarung silat dengan bermacam-macam latar, aksi kejar-kejaran dengan mobil dan motor, termasuk juga dalam dramanya. Kita akan disuguhi film laga Indonesia yang fantastis, yang boleh jadi belum pernah tampak senyata ini.

Gareth mengungkapkan, naskah dan koreografi silat The Raid 2: Berandal sebenarnya telah selesai dibuat justru sebelum The Raid: Redemption. Iko dan Yayan Ruhian menggarap 19 koreografi tarung dalam film ini. The Raid 2: Berandal juga mengikutsertakan kru dan pemain yang jauh lebih banyak. Tiga aktor Jepang, Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo, dan Kazuki Kitamura, juga dilibatkan dalam film ini. Gareth bahkan berencana terus mengembangkan film ini pada masa yang akan datang.

Salah satu produser, Ario Sugantoro, mengatakan, The Raid 2: Berandal menghabiskan anggaran sekitar 3 juta dollar Amerika Serikat, belum termasuk biaya pascaproduksi yang digarap di AS.

"Dulu ketika naskah The Raid 2: Berandal ini selesai, anggaran yang ada belum memungkinkan untuk mewujudkannya jadi film. Oleh karena itu, lalu dibikin naskah The Raid yang pertama (The Raid: Redemption), yang sebenarnya sempalan dari yang ini (The Raid 2: Berandal)," ungkap Ario.

The Raid 2: Berandal telah diputar perdana sebagai world premiere di Sundance Film Festival di Utah, AS, Januari 2014. Berbagai tinjauan film di arena internasional memberikan pujian pada film Indonesia ini. Di Indonesia, film ini sudah diputar dalam ARTE Indonesia Art Festival pada 14 Maret. Pada 28 Maret, The Raid 2: Berandal akan diputar serentak di sejumlah negara, seperti Indonesia, AS, Rusia, Malaysia, Australia, Malaysia, dan Selandia Baru. Daratan Eropa, termasuk Inggris, akan menyusul mulai April. Hak edar film ini telah dibeli Sony Pictures Worldwide Acquisitions Group, Alliance/Momentum, Koch Media, Korea Screen, dan HGC.

Ario Sugantoro mengatakan, target pemasaran film di arena internasional menjadi cara tersendiri bagi film Indonesia yang digarap serius.

"Sebab, film-film Indonesia yang digarap serius dan hanya diputar di dalam negeri susah sekali bisa menembus 1 juta penonton. Oleh karena itu, terjun ke pasaran internasional menjadi jalan yang kami ditempuh," kata Ario. (Sarie Febriane)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.