Jokowi Perlu Pendamping yang Mengerti Teritori, Kata Syaharani

Kompas.com - 16/04/2014, 15:16 WIB
|
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Vokalis jazz Saira Syaharani Ibrahim atau Syaharani mengaku, sampai saat ini belum menentukan calon presiden (capres) yang akan dijagokannya dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) periode 2014-2019.

"Saya kalau boleh frankly speaking nih, sejujurnya saya kurang berminat dengan (capres) yang ada tiga besar ini. Saya masih berharap ada hadirnya poros keempatnya yang lebih progresif," kata vokalis band Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF) di sela latihan bareng rekan-rekan segrupnya itu di Studio Odesa, Kompleks Pertokoan Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (15/4/2014).

Alasannya, dari para capres yang ada sekarang, ia belum melihat mereka memiliki wawasan mumpuni mengenai teritori Indonesia.

"Somehow saya berpikir memang Indonesia itu sangat luas. Sangat sulit untuk menjaga teritori dan menjalankan politik luar negeri," ujarnya.

"Enggak tahu nih, belum kelihatan naga-naganya ada poros keempat. Dalam hati berdoa juga, karena masalah negara itu masalah yang serius ya, termasuk masalah kebijakan ya, yang nanti akan berkaitan dengan masalah musik, perkembangan konser, dan pendidikan," lanjutnya. 

Mengenai Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi, disebut-sebut paling diunggulkan untuk menduduki kursi RI 1, Syaharani berharap Jokowi akan didampingi oleh seorang wakil presiden yang paham soal teritori dan ketahanan negara.

"Perlu pendamping kali ya buat mengimbanginya, buat yang mengerti teritori. Pertahanan negara penting banget," tekannya.

"Saya memandangnya begitu, untuk negara kepulauan yang lebar dan hasilnya (kekayaan alamnya) diincar negara lain, apalagi belum ada kemapanan teknologi. Jadi, menurut saya, harus ada keseimbangan," sambungnya.

Lepas dari itu, Syaharani tetap mengikuti pemberitaan sambil menunggu siapa yang akan terpilih memimpin negara ini selama lima tahun ke depan.

"Saya juga ngikutin perkembangan, sebab saya enggak mau jadi warga negara yang tolol, saya enggak mau apatis. Meskipun suara gue hanya dihitung satu suara dibanding para pejuang politik itu, tapi gue punya harapan buat negara ini," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.