JYJ "Membakar" Asian Games 2014

Kompas.com - 19/09/2014, 22:24 WIB
|
EditorAti Kamil
INCHEON, KOMPAS.com -- Boyband dari Korea Selatan JYJ menyuguhkan lagu tema Asian Games 2014, "Only One", pada upacara pembukaan pesta olah raga di Stadion Incheon, Korea Selatan, itu pada Jumat (19/9/2014) malam waktu setempat.

"Only One" dicipta oleh duo pencipta lagu sekaligus produser musik Sweetune, yang terdiri dari Han Jaeho dan Kim Seungsoo. JYJ, dengan personel-personel Jaejoong, Yoochun, dan Junsu, menyajikan dengan energik dan ceria "Only One" di hadapan mereka yang hadir pada upacara pembukaan itu, sebagaimana dalam klip video yang shooting-nya dilakukan di Incheon Airport, salah satu ikon kota tersebut.

Aksi energik dan ceria JYJ menjadi representasi bagaimana orang-orang datang bersama-sama untuk Asian Games 2014. JYJ berharap "Only One" disukai.

"Kami berharap bahwa 'Only One' akan menjadi lagu yang bisa dinikmati dan menjadi kenangan dalam Asian Games Incheon," kata mereka, yang dikutip oleh Soompi.com, Jumat (19/9/2014).

Selain dengan "Only One", JYJ juga "membakar" dengan lagu "Empty", setelah api obor pesta olah raga empat tahunan itu berkobar di atas air mancur stadion tersebut. Jaejoong, Yoochun, dan Junsu pun terus menari di panggung berbentuk kapal layar kayu, seakan membagi energi mereka kepada semua yang ada di stadion itu.

Sebelum JYJ, boyband lain dari Korea Selatan, EXO, mengentak pada awal upacara pembukaan Asian Games 2014, yang ikut dimeriahkan oleh dua artis peran ternama Korea Selatan, Chang Dong-Geon dan Kim Soo-Hyun, sebagai pemandu para penonton mengikuti kisah "Asia tempo dulu", "Pertemuan Asia melalui laut", "Asia sebagai keluarga dan teman", hingga "Asia sebagai kesatuan dan masa depan bergabung dengan hari ini".

Chang membacakan bagian pertama dan Kim hadir melalui sebuah tayangan video pada bagian kedua, setelah melewati segmen "Asia tempo dulu", dengan visualisasi multimedia mengenai kehidupan pada zaman es. Sesudahnya, digambarkan, negara-negara di Asia mulai saling terhubung melalui laut sebagai jalur perdagangan dan pertukaran budaya dalam segmen "Pertemuan Asia melalui laut".

Berikutnya, pada segmen "Asia sebagai keluarga dan teman", para penari dalam upacara pembukaan Asian Games Incheon menampilkan wajah Asia abad ke-19, yang menceritakan hubungan keluarga dan teman yang bisa terjalin dengan bantuan alat komunikasi dan transportasi, sebelum bagian "Asia sebagai kesatuan dan masa depan bergabung dengan hari ini".

Pertunjukan itu diiringi dengan musik, dari yang bernuansa klasik dan dimainkan oleh sebuah orkestra, sentuhan musik tradisional, hingga musik elektronik.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X