K-Pop dan Perubahan Cita-cita Anak Muda Korea

Kompas.com - 26/09/2014, 09:44 WIB
Ricky Ujung, penyanyi dangdut Korea, yang akan segera YouTubeRicky Ujung, penyanyi dangdut Korea, yang akan segera "menyerbu" Indonesia setelah era K-Pop maupun drama Korea.
Penulis Budi Suwarna
|
EditorPalupi Annisa Auliani
KOMPAS.com - Tahun 1980-an, hampir semua anak muda Korea Selatan bercita-cita menjadi insinyur. Tahun 2000-an ketika K-Pop merebak, impian banyak anak muda Korsel berubah. Mereka ingin menjadi penyanyi idola.

Kini, mimpi itu mulai menjadi nyata. Cerita Ricky Ujung ini salah satu contohnya.

= = =

Ricky Ujung (29), anak muda Korsel yang sejak kecil ingin menjadi penyanyi, mulai menemukan jalannya. Bukan di Korsel, melainkan Indonesia. Bukan menyanyi pop korea, melainkan ”dangdut korea”.

”Saya memang suka lagu dangdut. Saya belajar nyanyi dangdut beserta cengkoknya di internet. Kebetulan ada agen penyanyi Korsel yang sedang mencari penyanyi dangdut Korea,” kata Ricky, awal September, di sebuah kafe di Gangnam, Seoul.

Ricky pun mengikuti audisi dan lolos. Dia langsung dibuatkan lagu dangdut dengan nuansa latin berjudul ”Mamah Papah”. Lirik lagunya kocak dan agak norak. (Baca juga: Drama Korea Sudah, K-Pop Sudah, Sekarang Ada Dangdut Korea!)

Perhatikan penggalannya: ”mamah papah/ mamah papah/ mamah papah/ geli-geli suka// mamah papah/ mamah papah/ mamah papah/ geli-geli gan-nasss//”.

Video klipnya juga kocak. Di tengah lalu lalang banyak orang di jantung Seoul, dia bergoyang dangdut dengan koreografi yang aneh.

Singel ”Mamah Papah” telah diluncurkan di Indonesia. Setelah itu, manajemennya berencana menerjemahkan lagu itu dan meluncurkannya di Korsel. ”Saya seperti bermimpi. Saya jadi penyanyi. Ya, penyanyi!” ujar Ricky girang dengan bahasa Indonesia patah-patah.

Ricky girang bukan kepalang. Maklum, jalan yang ia lalui untuk sampai diorbitkan jadi penyanyi lumayan berliku. Sejak SMP, Ricky menyimpan mimpi jadi penyanyi kondang. Karena itu, ia berlatih menyanyi dan dance di rumah, tiga jam sehari. Malang, ayahnya yang ahli teknologi informasi di sebuah perusahaan besar Korsel menentang niat Ricky jadi penyanyi.

”Ayah memang dari generasi lama Korsel yang berpikir, berkarier itu, ya, di Samsung, Hyundai, atau perusahaan besar lainnya,” ujar Ricky yang bernama asli Hwang Woo-joong.

Ricky tidak menyerah. Ia terus berlatih, tampil menyanyi rock di kafe, dan ikut audisi jadi artis. Ricky pernah lolos audisi dan nyaris dikontrak manajemen artis. Lagi-lagi, ayahnya melarang. ”Saya kesal sekali, kenapa mau jadi penyanyi dilarang,” ucapnya.

Semakin dewasa, Ricky tidak bisa dicegah lagi. Ia bilang kepada orangtuanya, ia tetap ingin jadi penyanyi. Akhirnya, orangtuanya menyerah setelah Ricky menjalin kontrak dengan Big Entertainment, agensi artis milik orang Korsel yang membuka kantor di Jakarta, dan meluncurkan singel ”Mamah Papah”.

CATATAN:
Tulisan ini merupakan cuplikan dari tulisan di Harian Kompas edisi Kamis (25/9/2014) berjudul "Sepak Terjang Calon Idola" karya Budi Suwarna.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X