Membaca Ulang Dian dan Fariz

Kompas.com - 12/10/2014, 16:15 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Lagu-lagu yang pernah dipopulerkan Fariz RM dan Dian Pramana Poetra pada era 1980-an dinyanyikan kembali oleh penyanyi hari ini. Sammy Simorangkir, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro, Fatin, dan kawan-kawan membaca ulang serta menjadikan karya-karya tersebut sebagai lagu yang berasa "hari ini".

Sebuah karya lagu pada prinsipnya bisa dinyanyikan oleh siapa saja dengan tafsir dan gaya personal tiap pembaca lagu. Dalam album Fariz RM & Dian PP in Collaboration With keluaran Target Pop, Sammy Simorangkir melantunkan lagu "Kau Seputih Melati" karya Yockie Suryo Prayogo dengan karakter vokalnya yang khas. Dia melakukan reinterpretasi atas lagu yang pernah dipopulerkan Dian Pramana Poetra pada awal 1980-an itu. Sammy berhasil keluar dari bayang-bayang versi Dian PP dan menjadikan lagu itu miliknya.

Produser eksekutif album ini, Seno M Hardjo, menuturkan, Sammy sempat gamang menyanyikan lagu tersebut mengingat "Kau Seputih Melati" pernah populer lewat versi Dian PP. Setelah diyakinkan, Sammy mampu mengeksekusi lagu dengan mantap pada take atau perekaman suara yang ketiga.

"Jadi, Sammy itu memang jago banget," kata Seno memuji.

Oleh produser, lagu itu dirancang sebagai duet Sammy dengan Dian PP. Akan tetapi, Dian sendiri menilai versi yang telah dibuat Sammy sudah sangat bagus. Dian akhirnya dengan bijak memosisikan diri sebagai featuring, semacam bintang tamu pada lagu yang pernah mengangkat namanya itu.

"Setelah mendengar Sammy nyanyi-nya penuh energi, penghayatan yang mantap, dan aransemen vokal yang tertata dengan baik, tak perlu lagi dibantu Dian PP. Lebih baik aku sebagai featuring, di belakang saja," kata Dian.

Pada lagu tersebut warna Dian masih terasa hadir, tetapi tidak mendominasi. Justru di situlah letak kekuatan lagu yang aransemennya digarap Andi Rianto tersebut. Paraf atau karakter khas Dian tidak hilang, tetapi citranya sebagai penyanyi yang pernah memopulerkan lagu itu masih membayang di antara gaya Sammy yang prima.

Kualitas dan komersial
Produser eksekutif album ini cukup jeli dalam memilih penyanyi dan penata musik. Di masa susah jualan album fisik seperti saat ini, ia bisa menyeimbangkan antara tuntutan kualitas dan komersial sebuah album. Sejumlah penampil pada album ini mempunyai massa yang cukup besar. Penyanyi tersebut diharapkan bisa merengkuh pasar yang disasar oleh album ini, yaitu remaja dan kaum muda pada umumnya. Sebut saja Fatin yang menyanyikan lagu "Demi Cintaku". Begitu pula Indah Dewi Pertiwi yang kebagian lagu "Semua Jadi Satu" yang pernah mencatat angka penjualan sekitar 300.000 keping album di masa susah.

Penampil lain, seperti Maliq & D'Essentials ("Barcelona"), Sandhy Sondoro ("Sakura"), Glenn Fredly ("Aku Cinta Padamu"), dan Citra Scholastika ("Kurnia dan Pesona"), masing-masing punya massa yang tidak sedikit.

Di samping itu, ada pertimbangan katakanlah agak "idealis". Misalnya ada penyanyi sopran Isyana Saraswati dalam "Paseban Kafe" yang bernuansa agak nge-jazz. Grup Sore dalam "Jawab Nurani", 3 Composer ("Masih Ada"), dan Ecoutez ("Di Antara Kita"), Tuffa ("Antara Kita"), dan Angel Pieter ("Biru"). Dan nyatanya, mereka mendapat respons pasar. Setidaknya, dalam acara hearing season dengan pengelola radio, ada sebuah stasiun radio yang menyasar pendengar muda, kelas menengah atas, memilih lagu "Biru", "Paseban Kafe", dan "Masih Ada".
Lintas generasi

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X