JJF 2015, Tentang Lenturnya Festival Jazz

Kompas.com - 06/03/2015, 21:08 WIB
Band dari Yogyakarta Sheila On 7 berbicara mengenai Musim yang Baik dalam acara peluncuran album kedelapan mereka itu, di Hard Rock Cafe Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2014). KOMPAS.com/IRFAN MAULLANABand dari Yogyakarta Sheila On 7 berbicara mengenai Musim yang Baik dalam acara peluncuran album kedelapan mereka itu, di Hard Rock Cafe Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2014).
EditorAti Kamil
JAKARTA. KOMPAS.com -- Jakarta International Java Jazz Festival kembali dihelat mulai hari ini di Jakarta International Expo Kemayoran. Perbincangan di media sosial tentang penampil yang dianggap "enggak jazz" silakan dikesampingkan saja. Sebab, festival yang telah memasuki penyelenggaraan kesebelas tahun ini akan membuktikan bahwa jazz bisa sangat lentur.

Ketika Java Jazz Production sebagai penyelenggara mengumumkan Sheila on 7 sebagai salah satu penampil, dahi mulai mengernyit. Tak heran sebab kuartet asal Yogyakarta ini lebih tenar sebagai band pop. Kalaupun ada warna rock, mereka cenderung berada di jalur rock aman yang mudah diterima.

Tapi jazz? Rasa-rasanya Sheila on 7 tidak besar dengan aliran ini. Bisa jadi, jazz adalah salah satu jenis musik yang mereka dengar, tetapi tidak mereka sajikan. Namun, penyelenggara punya perhitungan untuk mengajak band yang pencinta pertamanya saat ini ada di usia mapan.

Sheila on 7 akan disandingkan dengan Ron King Big Band. Nah, kelompok yang dipimpin Ron King ini adalah jaminan mutu dalam memainkan jazz, khususnya yang mengutamakan sesi musik tiup. Mereka pernah tampil pada Java Jazz tahun lalu berkolaborasi dengan Dira Sugandi.

Bintang pop internasional Christina Perri juga bakal beraksi pada hari terakhir festival, Minggu. Java Jazz ini akan jadi kunjungan kedua Christina di Indonesia. Pelantun tembang hit "Human" ini pernah menggelar konser tunggal di Jakarta tiga tahun silam. Apakah Christina akan men-jazz-kan lagu-lagu bekennya? Simak saja hari Minggu pukul 19.30 di panggung D2 Main Stage.

Java Jazz Festival (JJF) kali ini memanggungkan Jessie J pada special show, Minggu pukul 22.00. Untuk bisa menyimak pelantun hit "Bang Bang" dan "Price Tag" ini penonton harus membayar lagi di luar harga tiket.

Lebih banyak anak muda
Executive Director Java Jazz Production Paul Dankmayer punya alasan menempatkan Jessie J sebagai bintang spesial.

"Jessie J ini kami anggap bisa menarik kerumunan penonton berusia muda untuk mengalami atmosfer festival jazz internasional," kata Paul, yang bersama Peter F Gontha merancang festival jazz ini sejak awal.

Pernyataan Paul itu cukup menarik. Pria yang pernah mengerjakan North Sea Jazz Festival di Belanda ini berpendapat, karakter penonton festival jazz di Indonesia berbeda dengan festival di Eropa. Di sana, festival jazz dihadiri penonton berusia 35 tahun sampai 55 tahun. Di Indonesia, penonton berusia 20 tahunan justru lebih banyak.

Oleh sebab itu, setiap perhelatan Java Jazz berusaha menyajikan penampil yang sedang digandrungi pendengar muda. Tahun ini, selain nama yang sudah disebut tadi, ada band pop Mocca yang banyak lagunya berwarna swing, yang sering diidentikan dalam keluarga jazz.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X