"Surat Cinta": Masih Ada Cinta di Jakarta - Kompas.com

"Surat Cinta": Masih Ada Cinta di Jakarta

Kompas.com - 08/03/2015, 20:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com --  Jakarta membelenggu warganya dalam relasi paradoksal yang mungkin bisa dilabeli status ala media sosial: "it's complicated". Kelindan rasa antara cinta dan benci yang tak berujung. Begitulah kira-kira pesan yang merembes dari antologi tiga film pendek "Surat Cinta".

Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama Kineforum dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menggelar program Film untuk Kota yang diputar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tiga film terpilih terangkum dalam antologi film pendek bertema Surat Cinta untuk Jakarta. Ketiga film pendek yang terpilih untuk diputar dari program eksperimentasi pembuatan film layar lebar oleh komunitas tersebut adalah Mencari Sudirman karya Panji Wibowo, Kok ke Mana? karya Chairun Nissa, dan Rock N Roll karya Wisnu Surya Pratama.

"Tema yang kami tawarkan kepada mereka (pembuat film) adalah bagaimana melihat cinta di Jakarta di tengah segala hal yang kita sebel tentang Jakarta," kata Alex Sihar, anggota Komite Film DKJ sekaligus kurator dalam program tersebut.

Menurut Alex, setelah masa penayangan 14-19 Februari yang lalu, menurut rencana film-film pendek yang dihasilkan dari program tersebut akan ditayangkan ulang. Pihak DKJ akan mengumumkan melalui situsnya mengenai lokasi dan jadwal pemutaran ulang tersebut. Di luar penayangan yang dikelola DKJ, setiap film dapat diputar ulang secara mandiri oleh tim film masing- masing.

Dari ketiga film pendek dalam antologi tersebut terlihat setiap film menampilkan gaya bertutur yang berbeda. Mulai dari sentuhan metafora dalam Mencari Sudirman, rasa teatrikal dari Kok ke Mana?, dan ramuan sederhana bercita rasa road movie dari Rock N Roll.

Film Rock N Roll, misalnya, secara wajar menyuguhkan kisah yang dapat dirasakan banyak orang tentang Jakarta. Cerita sederhana yang dijalin manis tanpa dramatisasi berlebihan tetapi menyisakan kesan dan senyum simpul di ujung cerita.

Seorang perempuan ayu kinyis-kinyis mengeluh kegerahan dan terganggu dengan bau jalanan Jakarta. Asti (Putri Ayudya), perempuan itu, baru pulang dari Belanda setelah kuliah dari suatu program beasiswa. Kepulangannya kembali ke Jakarta dirayakan dengan agenda jalan-jalan di Jakarta bersama sahabat lamanya, Indra (Anggun Priambodo), mantan wartawan yang kemudian memutuskan menjadi tukang sayur.

Pelesir jalan-jalan di kota serba kacau seperti Jakarta tentulah tak seindah bayangan kegembiraan dalam lirik lagu kanak-kanak tempo dulu. Kemacetan, asap kendaraan, bau udara kotor, menjadi wajah kusam Jakarta masa kini.

Namun, ada satu hal yang membuat Asti sulit mengelak cintanya pada Jakarta yang serba bau tengik, yakni aroma sedap aneka kuliner lezat yang terendus di sudut-sudut kota yang sesak. Asti dan Indra pun mengais sisa rasa cinta pada Jakarta dalam bubur ayam A Guan di Mangga Besar, es kopi Tak Kie di Glodok, laksa betawi Assirot di Kebayoran Lama, hingga es teler Dharmawangsa.

Di antara petualangan kuliner Ibu Kota, keduanya terlibat obrolan tentang perubahan pilihan jalan hidup Indra yang dianggap Asti ekstrem, serta hal-hal lain yang sempat tak selesai di masa lalu.

"Film ini akan kami putar ulang di XXI shorts, Festival Film Pendek tahunan yang diselenggarakan bioskop XXI 18-22 Maret mendatang," kata Mandy Marahimin, produser Rock N Roll.

Ingatan yang lesap
Film Mencari Sudirman bercerita tentang seorang perempuan urban pekerja kantoran bernama A (Leony) yang kebingungan mencari-cari pacarnya, Sudirman, yang tiba-tiba menghilang. Sudirman seorang pekerja kantoran di kawasan Sudirman lesap begitu saja, tanpa meninggalkan petunjuk apa pun selain sisa-sisa kenangan yang melesak kuat dalam ingatan A. Sudut-sudut kota, kawasan Sudirman, memproyeksikan kenangan A akan kekasihnya.

Mencari Sudirman menggelitik kita betapa suatu makna tentang Sudirman bisa begitu terpolarisasi menjadi makna-makna baru seiring titian waktu membentuk sejarah. Apakah kita mengingat Sudirman sebagai seorang jenderal besar pahlawan bangsa, atau tentang jalanan yang selalu macet, atau tragedi Semanggi yang pernah pecah, atau tentang seorang kekasih seperti yang menguasai benak A? (Sarie Febriane)


EditorAti Kamil

Close Ads X