Memancing Tawa dengan Lagu Jenaka

Kompas.com - 15/03/2015, 17:35 WIB
Project Pop meluncurkan album terbaru, Move On Lagi, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2015). KOMPAS.com/IRFAN MAULLANAProject Pop meluncurkan album terbaru, Move On Lagi, di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2015).
EditorIrfan Maullana
JAKARTA, KOMPAS.com -- Lagu-lagu dengan lirik jenaka meramaikan belantika musik pop Indonesia dari masa ke masa. Project Pop termasuk yang setia di jalur pop jenaka itu. Mereka merilis album kesepuluh, Move on Lagi.

Project Pop yang terus berkiprah sampai hampir dua dekade membuktikan bahwa lagu jenaka mempunyai tempat tersendiri di belantika musik pop Tanah Air. Digawangi oleh Tika, Udjo, Gugum, Yossi, Oon, dan Odie, Project Pop sejak paruh kedua era 1990-an populer lewat lagu seperti "Dangdut is the Music of My Country" dan "Tu Wa Ga Pat".

Album kesembilan mereka, Move On, yang diproduseri sendiri oleh Project Pop dan Irwan Simanjuntak, memuat 10 lagu lama mereka yang digarap ulang plus dua lagu baru. Lagu lama tersebut ialah "Move On", "Gara-gara Kahitna", "Goyang Duyu", "Ingatlah Hari Ini", "BDG40 (Katakan Cinta)", "Plis Plis Polisi", "Sama-Sama", "Together Hamburger", "Beda Sama Kamu", "TTN-Teman tapi Ngarep". Adapun dua lagu lainnya merupakan lagu baru, yaitu "Mengapa-Mengapa" dan "Antara Bandung-Kuala Lumpur".

Kejenakaan lagu Project Pop dibangun lewat lirik, misalnya pada lagu "Antara Bandung-Kuala Lumpur". Lagu tentang kisah cinta yang terentang antara Bandung dan Kuala Lumpur ini digarap dengan gaya pop bernuansa Melayu. Ditampilkan suara akordion untuk memperkuat kesan kemelayuan lagu. Simak lirik lagunya:

"Kukejar dirimu ke Malaysia/ Menunggumu di menara kembar dua/ Sebulan tak kunjung bertemu jua/ Kurasa kau tinggal di Selangor. (Bukan)/ Mungkin juga kau tinggal di Johor (Bukan)/ Jangan-jangan kau tinggal di Bogor. (Nggak mau kasih tau)..."

Adapun kejenakaan lagu "Mengapa-Mengapa" dibangun lewat klip video. Lagu dikemas dengan musik yang "menggoda" orang untuk bergoyang, yaitu dangdut koplo. Istilah dangdut koplo ini disebut Udjo sebagai electronic dance music ala Indonesia. Jenis musik ini dipilih Project Pop karena electronic dance music tengah menjadi tren di dunia, termasuk di Indonesia dengan istilah dangdut koplo tersebut. Semakin terasa Indonesia karena di dalamnya disusupi alunan seruling Sunda.

Dosis kejenakaan diperbanyak lewat klip video lagu "Mengapa-Mengapa". Project Pop menyajikan beberapa jenis goyang yang dibawakan para personelnya sambil menyanyi. Ada goyang penguin, goyang senota, goyang itik, goyang duyu, goyang dumang, goyang ngebor, goyang morena, hingga goyang why-why (mengapa-mengapa) sesuai judul lagu.

Dengan jurus-jurus jenaka tersebut, Project Pop terus berkarya sampai hari ini. "Ini adalah bukti kami tetap menunaikan tanggung jawab sebagai orang-orang yang memiliki bakat menghibur. Jadi bukan sekadar persoalan distribusi atau uang belaka," kata Yossi.

Ditambahkan Udjo, meski banyak yang menyebut Project Pop adalah grup tua, Udjo dan teman-temannya bergeming. "Kami menolak untuk tua dan menolak untuk tidak kreatif," kata Udjo mantap.

Project Pop bahkan juga berencana melebarkan sayap ke negeri jiran dengan mengusung lagu "Antara Bandung-Kuala Lumpur". Publik musik Malaysia adalah pemuja lagu Project Pop, salah satunya pada lagu ”Bukan Superstar” yang klip videonya di kanal Youtube disaksikan lebih dari dua juta orang dalam kurun waktu lebih dari setahun.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X